Pasca-gempa Flores, SMA Katolik Regina Pacis Bajawa Terapkan Dua Skema Pembelajaran Darurat

BAJAWA, WBN — Sekolah Menengah Atas Swasta (SMAS) Katolik Regina Pacis Bajawa di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menerapkan skema Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) darurat.

Langkah ini diambil setelah gempa tektonik bermagnitudo 7,7 memporak-porandakan sejumlah wilayah di Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.

Kepala SMA Regina Pacis Bajawa, Hendrianto Emanuel Ndiwa, menjelaskan bahwa pihak sekolah membagi sistem pembelajaran ke dalam dua metode. Metode pertama adalah pembelajaran tatap muka khusus bagi siswa kelas XII guna mempersiapkan mereka menghadapi tes kompetensi akademik. Metode kedua adalah pembelajaran daring (online) bagi siswa kelas X dan XI.

“Kami optimis strategi yang ditempuh ini berdampak langsung pada jaminan kualitas sumber daya manusia peserta didik,” ujar Hendrianto.

Sebanyak 378 siswa kelas XII yang mengikuti pembelajaran tatap muka kini ditempatkan di 12 tenda darurat. Belasan tenda tersebut tersebar di tiga titik lokasi, yaitu lapangan SMA Regina Pacis Bajawa, area depan susteran, dan area depan asrama putri.

Sementara itu, pembelajaran daring diikuti oleh 780 pelajar dari rumah masing-masing. Dalam skema ini, pihak sekolah mengirimkan materi pembelajaran dan menyelenggarakan tes secara digital.

Untuk mendukung fasilitas ruang kelas darurat, pihak sekolah melakukan pengadaan mandiri sebanyak 11 tenda. Sementara itu, satu tenda lainnya merupakan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas dukungan tenda sehingga proses belajar mengajar darurat bisa terselenggara sesuai target. Apresiasi juga kami sampaikan kepada pengurus komite dan Ketua Yayasan atas dukungan penuhnya, khususnya dalam pengadaan tenda,” kata Hendrianto.

Selain membagi lokasi belajar, manajemen sekolah juga menunjuk tiga tenaga pengajar untuk bertindak sebagai “kepala sekolah sementara” di masing-masing titik darurat.

Penunjukan ini bertujuan untuk memastikan proses KBM di setiap lokasi tetap terkoordinasi dan terpimpin dengan optimal.

Kepala Sekolah, Hendrianto menegaskan, penunjukan penanggung jawab di setiap titik KBM darurat ini merupakan strategi lapangan yang diputuskan bersama demi menjaga efektivitas pembelajaran di masa krisis.

Salah satu Pengurus Komite Sekolah, Anus Fua Radja kepada wartawan, menegaskan, pihak komite sekolah mendukung penuh metode Kegiatan Belajar Mengajar darurat yang dilaksanakan pihak sekolah. Komite juga memberikan apresiasi bagi kepala sekolah bersama jajaran karena sukses menyelenggarakan sekolah darurat dengan kerja keras, gotong royong dan semangat pelayanan yang sangat tinggi.

Ketua Osis SMAS Katolik Regina Pacis Bajawa, Dofi Nono menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah yang tidak kehilangan cara memastikan pelayanan maksimal meskipun dalam kondisi kedaruratan pascagempa.

“Sebagai pelajar kami berterima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah bersama jajaran guru yang selalu memberikan yang terbaik melalui pelayanan mereka bagi kami pelajar. Sekolah boleh darurat, tetapi pelayanan mereka maksimal”, ujar Dofi.

Selain itu, ia juga menyebut kekhawatiran dan trauma atas gempa, memang ada, tetapi bangkit dari kondisi merupakan cara yang tepat.

Dofi menitip asa, sekiranya para pihak terkait mendata secara pasti dan menolong para korban gempa, khususnya siswa-siswi yang keluarganya masuk dalam kategori berat dan sedang. Meskipun kategori ringan juga wajib diperhatikan, namun ia sepakat skala prioritas pertama adalah perhatian bagi korban kategori berat dan sedang.

Salah satu tenaga guru, Lusia Meme menyampaikan, fokus Kegiatan Belajar Mengajar di tengah kondisi darurat tetap terjamin, berjalan sesuai harapan.

“Dari keatifan siswa, fokus dan konsentrasi, meskipun dalam kondisi darurat, cukup baik dan maksimal. Para siswa tetap memiliki semangat yang baik dalam mengikuti bimbingan pelajaran di setiap tenda darurat”, tuturnya.

WBN

 

 

 

Share It.....