NTT, WBN — Pemerintah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berkomitmen terus memperluas akses pendidikan tinggi guna mencetak sumber daya manusia yang berkualitas di sektor agraria.
Komitmen ini diwujudkan melalui penambahan kuota beasiswa afirmasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi mahasiswa baru Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER FB).
Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Ngada Raymundus Bena saat membuka secara resmi kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STIPER FB Tahun Akademik 2026/2027 di Kampus Turekisa, Bajawa, Rabu (2/9/2026). Peningkatan alokasi ini diarahkan untuk mendukung pemenuhan kuota di setiap program studi (prodi) yang tersedia.
Bupati Raymundus menegaskan bahwa sektor pendidikan merupakan pilar investasi jangka panjang yang krusial bagi akselerasi pembangunan daerah. Oleh karena itu, kebijakan fiskal daerah diintervensi secara serius untuk menopang pembiayaan pendidikan masyarakat, mulai dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi.
“Untuk tahun ini, pemerintah daerah menyalurkan 2.707 beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) versi daerah bagi siswa SD dan SMP. Sementara untuk jenjang pendidikan tinggi, ada sekitar 400-an anak yang kita fasilitasi melalui KIP Kuliah di beberapa kampus, termasuk di STIPER Flores Bajawa ini,” ujar Bupati Raymundus.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ngada mengumumkan kebijakan penambahan kuota beasiswa afirmasi KIP Kuliah sebanyak 15 alokasi baru untuk STIPER FB. Kuota tambahan ini akan dibagi rata kepada lima program studi yang ada, sehingga masing-masing prodi mendapatkan tambahan tiga penerima manfaat baru yang dijaring berdasarkan nilai tertinggi.
Langkah ini diambil sebagai bentuk optimasi karena kuota awal yang disediakan dinilai belum terserap sepenuhnya secara merata.
“Kemarin kuota awal di STIPER sebanyak 30 orang, namun yang mendaftar baru 18 orang. Maka, saya tambahkan lagi 15 kuota baru untuk dialokasikan ke setiap prodi,” lanjutnya.
Kepada 148 mahasiswa baru yang memadati Kampus Turekisa, Raymundus mengingatkan bahwa PKKMB bukan sekadar rutinitas seremonial tahunan. Momentum ini merupakan fase transisi krusial bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan iklim akademik perguruan tinggi.
Pendidikan tinggi, lanjut Raymundus, memiliki daya ungkit besar dalam memutus rantai kemiskinan dan mendorong mobilitas sosial vertikal masyarakat. Melalui gemblengan akademik dan vokasional di bidang pertanian selama empat tahun ke depan, para mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa dampak konkret bagi keluarga dan daerah.
WBN
