Tidak Diduga, Penemuan Situs Kuno didesa Jahiyang Kec.Salawu Tasikmalaya

WBN, Tasikmalaya – Dr. Undang Darsa, kepala Departemen FKIB Sejarah & Filologi Unpad, bersama Dr. Elis Suryani Ketua Tim Lintas Budaya Nusantara & Gasantana. didampingi Irjen ( P ) Dr H Anton Charliyan Mpkn. Serta Kepala Desa , Punduh dan Para Sesepuh Kp Jahyang Salawu Kab Tasikmalaya. Mendatangi Lokasi Penemuan BATU LINGKAR /BATU MUNTIR atau yg Lebih dikenal didunia Akademis sebagai CYRKLE STONE. (31/10)

Batu Lingkar tesebut ditemukan disekitar Complek Makam Keramat Tuan Alam di lembah Gunung Galunggung. Yang memang dari sejak zaman dahulu kala merupakan Makam yang bentuk dan Posisinya sudah Melingkar. Karena posisi makam yang agak unik dan Aneh Ini , Tentu saja membuat semua yang pernah datang ketempat tesebut menjadi penasaran dan bertanya2, Kenapa Makam tesebut kok Bentuknya Melingkar?.

 

Maka para Sesesepuh, Masyarakat, Kepala Desa bersama, Yayasan Lintas Budaya Nusantara & tim Pecinta Alam Gasantana Sepakat untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut dengan cara Menggali Batu-batu  yang muncul Ke Permukaan tanah, yang ada disekitar Complek tersebut sekitar 0,5 Meter s/d 1,5 Meter. Dan Hasilnya tidak diduga-duga, semua batu yang awalnya hanya Muncul sedikit dipermukaan tesebut ternyata merupakan kumpulan batu lingkar atau Cyrkle Stone yang jumlahnya hampir 36 Buah. Dengan Bentuk dan Variasi yg berbeda satu sama lainya.

Yakni ada yang berbentuk hanya Satu lingkaran ada yang dua lingkaran bahkan ada yang 3 s/d 4 lingkaran, dengan bentuk, ukuran serta Variasi yang Berbeda-beda. Namun yang menjadikan satu kesamaan yakni Adanya semacam MENHIR atau LINGGA Ditengah-tengah Lingkaran tersebut yang rata-rata ada semacam tanda titik bulatan dibatunya tesebut, serta adanya Batu CAWENE (lekukan yang Lebih besar semacam Cowet untuk Sambal).

Menurut Dr. Undang Darsa yang juga dikenal sebagai Pengagas Aksara Sunda “Temuan ini Diduga Keras Merupakan Situs Kuno Peninggalan para Leluhur, periodenya diperkirakan Sebelum masuknya Budaya Hindu dan Budha dari India. Bila di lihat dari bentuk Batuanya yg sangat sederhana yang tidak Berbentuk, Yang diduga pula Merupakan BUDAYA ASLI ORISINAL LELUHUR SUNDA GALUNGGUNG yang melambangkan Sistem Kosmostika Alam khas Sunda sesuai dengan Naskah Amanat Galunggung maupun Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yakni Sistem TRITANGTU.( Sistem keseimbangan Alam yang terbagi 3 ). Dengan Adanya kesamaan Menhir/Lingga ditengahnya, inipun merupakan perlambang adanya kepercayaan yang kuat kepada Sanghyang Tunggal; Tuhan yg Maha Esa , Suatu ajaran Religi, Kepercayaan , Ageman atau AGAMA yang Sudah SAMAWI ( Kepercayaan yang sudah sejalan dengan ajaran Para Nabi dan Rosul ) Sehingga complek inipun diduga merupakan Suatu Kabuyutan sebagai Mandalanya para Resi Ahli Religi ( ditandai dengan ditemukanya Pecahan Keramik dan Logam semacam cawan kecil yg diduga utk ritual agama )”.

Dr. Elis pun sebagai ahli Filologis sependapat bahwa Batu Lingkar tersebut diduga keras merupakan sebuah situs, hasil karya Budaya Manusia zaman dulu yang bisa saja merupakan Mandala atau tempat Ritual. Sesuai dengan Namanya JA Hyang, Jaya Hyang = Tuhan yg maha Mulya, Tuhan yg maha Agung. Namun untuk memastikannya perlu adanya penelitian dari segala asfek Keilmuan baik dari Arkeolog. Sejarah. Linguistik Foklor ( dongeng ) dll , bahkan hubungan dengan Nama-nama tempat asli disekitar complek tersebut, maupun dari Naskah2 terkait “.

Abah Dr. H. Anton pun menambahkan ‘ beliau sangat yakin bahwa Batu lingkar tsb adalah Situs peninggalan Budaya Samawi dimasa lalu, namun disamping itu ada Keunikan dan Keanehan Khusus yang berhasil dengan temuan dari Cyrkle Stone tsb oleh Abah Anton, Yakni : dikomplek tsb Frekwensi Pemancar HT dan HP akan jadi semakin kuat dan semakin jauh daya jangkaunya. Sbg contoh HT yg Kapasitasnya hanya 5 Amper yg max jarak jangkaunya paling hanya 2 Km. Secara Otomatis tiba2 Bisa connect menjangkau Malaganti Galunggung , yg jaraknya lebih 10 km. Bahkan lebih dari itu , pernah contek langsung berkali2 dg Gn Sawal yg jaraknya sekitar 30 km, dan Gn Ciremai yg jaraknya lebih dari 150 km . Fenomena apa kira2 hal tsb, Sehingga dlm kesempatan tsb Anton Mengatakan tidak Menutup Kemungkinan Batu Lingkar tsb merupakan Pusat Station Radar atau Pusat Pengendalian Frekwensi dan Komunikasi pada Masa Kuno. Wallahu Alam bissawab ungkapnya. Batu lingkarpun sbg sebuah Cyrkle Stone akan berkaitan erat dg Cyrkle2 Stone yg ada di belahan dunia lain , Termasuk Deskripsi Plato 2300 thn yll, yg menyatakan bahwa Budaya Atlantis Kuno ditandai dg ciri2 adanya lingkaran2 Bersusun model Cyrkle Stone.Dalam kesempatan tsb Anton Menghimbau agar Situs tsb segera dijadikan tempat Penelitian dan Kajian dari berbagai Disiplin Ilmu terkait “.

Lebih jauh disampaikan oleh Kades dan Tokoh setempat H. Gani Bahwa ” Temuan Batuan tesubut Merupakan hal yang tidak terduga. Dan Bukan Sebuah Rekayasa , karena selama ini, Gani selain sbg tokoh masy , sehari2nya juga sbg Kepala Sekolah, yg ikut Terjun langsung setiap Hari menyaksikan dan Menggali selama 2 Bulan lebih.:” ini belum apa2, sudah ada yg berpendapat Nyinyir tentang temuan Batu lingkar tsb ‘.Ujarnyaa ” Batu2 tsb Memang sedemikan adanya ” ; ditambahkan pak Kades Jahyang.: bahkan kami tidak berani Merubah apalagi Menggeser walau hanya 1 cm pun. Kalau masih ada yg Tidak Percaya ayo kita sama2 ikut Gali. Krn masih Banyak Batu2 Lain yg belum tergali ” demikian ungkap Kades di akhir Wawancara. Harapan Anton “dengan ditemukanya Batu lingkar Cyrkle Stone merupakan Penemuan yg Baru, yg pertama ada di Indonesia ini , sehingga bisa saja menjadi Pembuka Fenomena yg lebih besar, sbg suatu sejarah kejayaan intelektual bagi Dunia , yg berawal dari Tatar Sunda yg bisa saja jadi sesuatu yg Fenomenal sbg satu penguatan dan Peninggalan Budaya Atlantis di masa lalu,
Utk itu agar bisa menjadi Perhatian semua fihak baik Pemerintah maupun Akademisi utk melakukan upaya2 yg nyata dan Kongkrit demi kemajuan Sejarah dan budaya Sunda dlm Khasanah Ke Nusantaraan ” ungkapnya. (Hidayat – biro Tasikmalaya | redpel ndra)