Pemda Ngada NTT Pacu Investasi Manusia mulai dari Seragam Sekolah

NGADA, WBN — Senin pagi, 20 Juli 2026, halaman Kantor Bupati Ngada mendadak riuh. Ratusan pasang mata menyaksikan sebuah momen, pelepasan 4.500 paket perlengkapan sekolah dan keberangkatan kontingen Jambore Pramuka. Dua agenda dalam satu upacara apel kekuatan.

Di balik seremonial tersebut, pemda setempat memesan investasi manusia yang sedang digenjot secara berkelanjutan dari satu masa kepemimpinan ke masa selanjutnya hingga kepemimpinan Bupati Raymundus Bena bersama Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu.

Rangkuman WBN, sebanyak 393 satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP menjadi sasaran distribusi. Bukan sekadar baju dan celana, ribuan siswa dipastikan menerima paket lengkap berupa topi, dasi, ikat pinggang, tas, hingga botol minum (tumbler).

Menurut Bupati Raymundus Bena, kebijakan ini merupakan sebuah upaya konkret untuk meringankan beban finansial orang tua murid di awal tahun ajaran.

Bupati Ngada blak-blakan mengakui bahwa program pemenuhan hajat hidup pendidikan ini sempat tersendat. Sedianya, proyek meluncur pada 2025. Namun, birokrasi pengadaan, fluktuasi harga pasar, hingga detail teknis seperti mencocokkan ukuran seragam untuk ribuan anak sempat membuat program ini molor setahun.

“Ini adalah kerinduan masyarakat yang akhirnya dapat kita wujudkan,” ujar Bupati, mengapresiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang berhasil mengurai benang kusut keterlambatan tersebut.

Bupati juga memberikan catatan keras kepada para kepala sekolah dan guru. Ia menegaskan agar distribusi di lapangan harus bersih dari potongan dan tepat sasaran. Baginya, setiap rupiah anggaran negara yang keluar dalam bentuk bantuan harus berdampak nyata di ruang kelas, bukan sekadar menjadi laporan di atas kertas.

Di panggung yang sama, atmosfer kepemudaan terasa kental saat pelepasan Kontingen Jambore Kabupaten Ngada. Mereka bersiap menuju ajang Pramuka tingkat provinsi dan nasional. Bagi Pemerintah Kabupaten Ngada, mengirim anak-anak ke arena jambore bukan sekadar urusan berkemah atau bernyanyi di api unggun. Ini adalah ruang penggodokan karakter di luar dinding kelas.

Melalui jambore, generasi muda Ngada ditantang merawat solidaritas, menghargai keberagaman nusantara, dan mengasah kecakapan memimpin.

“Pendidikan karakter tidak cukup hanya diperoleh di ruang kelas,” tegas Bupati.

Pemerintah daerah mengakui bahwa prasyarat menuju daerah yang unggul, mandiri, dan berbudaya harus dimulai dari jaminan fasilitas belajar yang merata dan mentalitas generasi muda yang tangguh.

WBN

Share It.....