Dari Jurnalisme ke Birokrasi Desa, Arkadius Togo Siap Maju di Pilkades Aeramo
Wartawan Arkadius Togo

NAGEKEO, WBN — Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, periode 2027–2035 mulai menghangat. Salah satu figur yang menyatakan siap bertarung dalam pesta demokrasi tingkat desa tersebut adalah Arkadius Togo, seorang jurnalis aktif yang selama ini bertugas di wilayah Nagekeo.

Pria yang akrab disapa Arton ini menegaskan bahwa keputusannya untuk maju didasari oleh panggilan moral untuk mengabdi di tanah kelahirannya. Ia berkomitmen menjaga dan merawat warisan nilai luhur kebudayaan Suku Nataia yang menjadi akar sosial masyarakat Desa Aeramo.

“Ini bukan soal ambisi pribadi. Saya merasa terpanggil untuk meneruskan dan merawat apa yang telah diwariskan oleh leluhur Suku Nataia, khususnya bagi warga Desa Aeramo,” ujar Arton, Minggu (9/8/2026).

Bagi Arton, Desa Aeramo bukan sekadar wilayah administratif, melainkan sebuah rumah bersama yang nilai-nilai gotong royongnya harus tetap hidup. Jika dipercaya memimpin, ia bertekad menjadikan falsafah adat “To’o Jogho Waga Sama” sebagai landasan utama tata kelola pemerintahan desa. Falsafah tersebut mengandung makna bekerja bersama dalam semangat kebersamaan dan kesetaraan.

“Pembangunan tidak akan berjalan optimal jika dilakukan secara parsial atau sendiri-sendiri. Lewat semangat To’o Jogho Waga Sama, kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Pemerintah desa, tokoh adat, pemuda, dan kelompok perempuan harus dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan,” kata Arton.

Ia mengidentifikasi sejumlah tantangan krusial yang dihadapi Desa Aeramo ke depan, mulai dari penguatan ekonomi warga, pembenahan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan air bersih, peningkatan mutu pendidikan, hingga pelestarian marwah budaya.

Menurut dia, kompleksitas masalah tersebut membutuhkan kehadiran pemimpin yang mau turun ke lapangan dan mendengarkan langsung aspirasi warga.

Pengalamannya selama bertahun-tahun di dunia jurnalistik diklaim menjadi modal sosial yang kuat. Profesi tersebut dinilai telah membentuk cara pandangnya yang kritis sekaligus peka terhadap realitas sosial di tingkat akar rumput.

“Selama menjadi wartawan, saya terbiasa melihat langsung persoalan dari bawah dan mendengar keluh kesah masyarakat secara objektif. Pengalaman ini yang akan saya bawa untuk membangun jembatan komunikasi yang lebih inklusif antara pemerintah desa, warga, dan pemerintah daerah,” tuturnya.

Arton menyoroti empat potensi utama Desa Aeramo yang selama ini dinilai belum dikelola secara optimal. Ia meyakini, jika sektor-sektor ini dikembangkan dengan manajemen yang baik, dampaknya akan signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli desa (PADes) dan pembukaan lapangan kerja baru.

Pertama, Sektor Pertanian: Mengubah pola pertanian konvensional yang cenderung berjalan di tempat agar mampu bertransformasi menjadi lumbung ekonomi desa yang mandiri.

Kedua, Sektor Perikanan: Mengoptimalkan potensi perikanan secara serius sebagai sumber pemenuhan gizi sekaligus komoditas ekonomi bernilai tambah bagi warga.

Ketiga, Pengelolaan Mata Air: Memanfaatkan sejumlah titik mata air alami di Desa Aeramo melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk pemenuhan air bersih, air minum kemasan, maupun kawasan wisata lokal.

Keempat, Penataan Fasilitas Umum: Membenahi dan mengelola aset desa seperti pasar dan balai pertemuan secara profesional agar mampu menyumbang retribusi daerah bagi PADes.

Kehadiran Arkadius Togo dalam bursa kepemimpinan ini diprediksi akan memperkaya dinamika Pilkades Aeramo 2027. Dengan memadukan perspektif kritis jurnalisme dan pendekatan kearifan lokal, ia optimistis mampu membawa pembaruan yang konkret bagi stabilitas dan kemajuan desa.

“Dengan semangat To’o Jogho Waga Sama, mari kita bangun Aeramo bersama-sama,” pungkasnya.

WBN – Wil

Share It.....