Tragedi Nagekeo NTT: Saat Rakyat Berjuang di Tenda, Birokrasi Sibuk Menjilat
Penulis John Lobo

Oleh : John Lobo, Pemerhati Sosial

Kunjungan Kepala Negara (Presiden Prabowo Subianto) ke daerah pasca bencana gempa dahsyatt bermagnitudo 7,7 tanggal 15 Agustus 2026, yang mengguncang Pulau Flores, semestinya menjadi momentum penegasan kehadiran negara di tengah penderitaan rakyat.

Agenda utama sudah tergaris jelas yakni memantau kerusakan, memastikan jalur logistik darurat terbuka, dan memulihkan mental warga yang tertimpa musibah. Namun, dinamika di Nagekeo justru menghadirkan sebuah tontonan satir yang telak mencederai nalar publik.

Di tengah ribuan korban gempa yang masih bergelut dengan puing-puing reruntuhan, tenda darurat, dan trauma psikologis, publik justru dikejutkan oleh laporan sang bupati yang memaparkan keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dari tingkat kehadiran siswa hingga klaim penurunan angka KDRT.

Langkah ini memperlihatkan adanya disonansi akut antara realitas di lapangan dan orientasi birokrasi. Saat prioritas utama rakyat adalah tenda yang layak, air bersih, serta kepastian masa depan anak-anak sekolah yang bangunannya hancur, meja kekuasaan justru disesaki oleh laporan administratif pencapaian program nasional yang terasa salah momentum.

Publik tentu bukan menolak esensi dari program peningkatan gizi itu sendiri. Yang menjadi persoalan mendasar adalah skala prioritas dan empati kemanusiaan.

Ruang rapat koordinasi pascagempa bukanlah panggung yang tepat untuk menyampaikan laporan yang jauh dari urgensi darurat bencana.

Ketika korban gempa membutuhkan kehadiran kepemimpinan yang fokus pada penyelamatan dan pemulihan, yang tersaji justru manuver laporan yang mengesankan upaya mencari muka di hadapan pusat.

Peristiwa di Nagekeo kali ini meninggalkan catatan pahit bagi tata kelola kepemimpinan daerah.

Krisis tidak butuh pencitraan statistik yang dipaksakan, krisis butuh kecepatan, ketepatan, dan kejujuran nurani.

Jika para pemimpin di daerah saja gagal membaca penderitaan rakyatnya sendiri di saat darurat, maka yang runtuh di Nagekeo bukan sekadar bangunan fisik akibat gempa, melainkan juga akal sehat birokrasi kita.

Penulis John Lobo

 

 

Share It.....