Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda Warga Radabata Ngada Itu

Oleh : SuruOktaviano

Sebuah Opini untuk Kemanusiaan yang tak boleh runtuh. Gempa tidak pernah mengetuk pintu. Ia datang seperti bisik bumi yang marah, lalu berteriak.
Detik saja. Tapi sedetik itu cukup untuk merobohkan tembok yang dibangun 20 tahun.

Cukup untuk membuat piring warisan pecah, foto keluarga retak, dan tidur Mama Imelda Wea tercerai-berai.

Malam itu, seorang janda tua, warga Kampung Foka Mama Imelda tidak sempat bertanya “mengapa”.

Yang Imelda lakukan hanya satu: berlari. Menggandeng cucunya, menutup kepala dengan kedua tangan, dan berdoa dalam lari. Saat debu turun, rumah sudah bukan rumah lagi. Ia menjadi tumpukan pertanyaan yang belum terjawab.

Pagi setelahnya, matahari masuk dari lubang di atap. Tidak ada lagi pintu yang bisa ditutup. Tidak ada lagi dapur yang bisa mengepul. Yang ada hanya kursi plastik miring, selimut berdebu, dan jejak kaki di atas puing.

Mama Imelda duduk di teras yang kini tanpa atap. Tangannya memungut pecahan gelas satu-satu. Seolah kalau gelasnya utuh kembali, hidupnya juga bisa. “Ini tempat saya menanak nasi,” katanya pelan. “Ini tempat saya menidurkan anak.”
Rumah tidak hanya roboh. Rumah menangis. Dan yang mendengarnya hanya angin.

Hari pertama, orang datang. Bawa sembako, bawa tenda, bawa kamera.
Hari kedua, masih ada yang bertanya kabar.
Hari ketiga… sepi.

Kita memang begitu. Ramai saat bencana, lalu sibuk dengan hidup kita sendiri.
Tagar tenggelam. Berita berganti. Bantuan menipis. Tapi Mama Imelda masih di situ. Dengan nasi bungkus yang harus dibagi tiga hari. Dengan malam yang dingin karena seng sudah tidak ada. Dengan takut yang datang tiap kali tanah sedikit bergetar.

Di berita, beliau ditulis: “1 dari 200 korban terdampak”. Tapi Mama Imelda bukan angka. Ia adalah suara yang dulu memanggil anak pulang magrib. Tangan yang menjahit baju sekolah dengan benang warna-warni. Doa yang dibisikkan tiap subuh untuk anak dan cucu.

Gempa mengambil atapnya. Jangan sampai kita ikut mengambil kemanusiaannya dengan melupakannya. Ada lapar yang tidak fotogenik. Lapar Mama Imelda saat beras tinggal segenggam. Saat minyak habis dan tungku dingin. Saat harus memilih: beli obat atau beli telur.

“Saya tidak minta banyak,” katanya. “Saya hanya ingin bisa masak lagi di dapur saya sendiri.” Sebuah kalimat sederhana. Tapi berat, karena dapurnya sudah tidak ada.

Kerusakan paling parah bukan di tembok.
Tapi di dada. Setiap kali ada guncangan kecil, jantung Mama Imelda berlari lebih dulu daripada kaki. Setiap malam, beliau tidur dengan satu mata terbuka.
Trauma tidak punya tanggal kedaluwarsa.

Kita membangun kembali rumah dengan semen. Tapi siapa yang membangun kembali rasa amannya?

Untungnya, bumi belum kehilangan manusia. Tetangga masih datang membawa air. Anak muda masih menyapu puing. Ada yang menitipkan beras. Ada yang menitipkan doa.

Ini buktinya: gempa bisa meruntuhkan dinding, tapi tidak bisa meruntuhkan kita.
Selama masih ada tangan yang mau terulur, selama itu pula harapan belum mati.

Maka mari kita bicara tentang hal kecil.
Sekeping beras untuk mengganjal lapar hari ini. Setetes minyak untuk menghidupkan kompor besok. Selimut untuk malam yang dingin. Terpal untuk hujan yang tidak menunggu.

Bantuan tidak harus besar. Bantuan harus terus. Karena pemulihan bukan sprint. Pemulihan adalah maraton.

Gempa mengajari kita 3 hal:
Bahwa rumah bisa roboh, tapi keluarga tidak boleh. Bahwa bantuan tidak boleh musiman. Bahwa kemanusiaan diuji bukan saat bencana, tapi setelahnya.

Mama Imelda adalah guru kita hari ini.
Ia mengajari tentang kuat. Tentang sabar. Tentang tetap berdoa walau atap sudah tiada.

Jadi, ketika gempa berlalu, siapa yang peduli pada Mama Imelda?
Jawabannya harus kita.

Jangan biarkan empati kita ikut retak seperti tembok rumahnya. Jangan biarkan kepedulian kita ikut terkubur bersama puing.

Mari alirkan bantuan. Terus. Sampai Mama Imelda bisa menanak nasi lagi di dapurnya.
Sampai ia bisa tidur tanpa takut.
Sampai senyumnya kembali, lebih kuat dari guncangan apapun.

*Karena pada akhirnya, membangun kembali manusia… jauh lebih penting daripada membangun kembali rumah.*

Penulis: SuruOktaviano

Share It.....