Ratapan Janda Tua Radabata Ngada : Gempa Sapu Rumah, Ongkos Kuliah Anak Tersendat

NGADA, WBN — Gempa susulan yang mengguncang Flores pada Senin (24/8/2026) dini hari tidak hanya meruntuhkan dinding-dinding batu. Bagi Imelda Wea, janda tua di Desa Radabata, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, guncangan itu turut mengempaskan seluruh tumpuan hidupnya.

Satu-satunya rumah warisan mendiang suaminya, tempat ia berlindung dan merebahkan tubuh dari penatnya hari, kini telah rata dengan tanah. Di hadapan puing-puing itu, Imelda tertegun, kehilangan arah memikirkan hari esok.

Sehari-hari, Imelda bertahan hidup bersama seorang anak perempuannya yang ditinggal pergi pasangan, serta seorang cucu perempuan berusia empat tahun yang menjadi satu-satunya penghibur lara.

Namun, beban terberat yang menghimpit dada Imelda saat ini adalah nasib putri bungsunya, Karlina Rau (23).

Karlina saat ini tengah menempuh pendidikan di Semarang, Jawa Tengah. Ia tercatat sebagai mahasiswi semester tiga program studi D3 Kebidanan di Universitas Bhakti Kencana.

Gadis berprestasi lulusan SDN Doka, SMPN 1 Aesesa, dan SMAN 1 Aesesa ini sebenarnya kuliah melalui jalur beasiswa KIP-Kuliah dan tinggal di asrama. Namun, biaya hidup bulanan tetap menjadi tanggung jawab sang ibu.

Dari hasil memeras keringat menjual labu dan ubi, Imelda selalu menyisihkan uang dalam jumlah terbatas untuk dikirim ke Semarang guna membiayai makan, sabun, dan ongkos transportasi bulanan bagi putrinya.

Sementara itu, hasil dari kebun kopi yang petakannya tak seberapa, hanya cukup untuk menyambung hidup membeli beras di kampung halaman. Kini, siklus bertahan hidup itu patah.

“Setiap hari kami tinggal bertiga di sini. Satu putri saya masih kuliah kebidanan di Semarang. Saya tidak tahu lagi bagaimana mengirimkan uang makan bulanannya. Rumah kami sudah runtuh, kami tidak punya apa-apa lagi,” tutur Imelda dengan air mata yang meleleh di pipinya, Kamis (27/8/2026).

Saat ini, Imelda bersama anak dan cucunya terpaksa menghuni tenda darurat, tepat berhadapan dengan puing-puing rumah mereka.

Baginya, Karlina adalah jangkar dan harapan terakhir untuk mengangkat harkat hidup keluarga kecil ini dari garis kemiskinan.Di tengah tangis dan ketidakpastian yang pekat, Imelda hanya bisa memasrahkan nasibnya.

Di bawah atap terpal tenda pengungsian, ia terus memanjat doa kepada Tuhan dan Bunda Maria, berharap ada tangan-tangan kemanusiaan yang sudi singgah dan merajut kembali harapan mereka yang porak-poranda oleh bencana.

WBN

Share It.....