Bupati Ngada : Gempa Flores, 14.336 Rumah di Ngada Rusak

NGADA, WBN — Pemerintah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berupaya mempercepat penanganan pasca-gempa agar fase tanggap darurat bisa segera beralih ke tahap transisi pemulihan.

Langkah ini dilakukan dengan memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan bantuan logistik dan jaminan sosial selama masa darurat berlaku. Bupati Ngada Raymundus Bena menjelaskan, masa tanggap darurat yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) bupati dijadwalkan berlangsung selama satu bulan hingga 15 September mendatang. Pemerintah daerah belum berencana memperpanjang status tersebut.

“Kami belum sampai pada tahap perpanjangan masa darurat. SK yang ada saat ini berlaku sampai tanggal 15 September. Bahkan, saya ingin penanganan ini dipercepat agar masa darurat tidak terlalu lama dan kita bisa segera masuk ke tahap transisi selanjutnya,” ujar Bupati Raymundus dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).

Menurut Bupati, penanganan darurat di lapangan telah berjalan intensif sejak hari pertama pasca-bencana. Ia bersama Wakil Bupati Ngada membagi wilayah tugas untuk meninjau langsung kondisi pengungsi dan mengoordinasikan distribusi logistik.

Upaya percepatan ini juga didukung penuh oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, dan Polri.

“Sejak awal, saya dan Pak Wakil Bupati selalu berada di lokasi bencana. Kami bahkan jarang bertemu di kantor karena berbagi tugas di wilayah terdampak yang berbeda-beda,” katanya.

Data terbaru dampak gempa Flores di Kabupaten Ngada mencatat kerugian material yang cukup masif. Sebanyak 197 desa yang tersebar di 12 kecamatan terdampak oleh guncangan gempa. Total rumah warga yang dilaporkan mengalami kerusakan mencapai 14.336 unit.

Untuk memastikan ketepatan penanganan, Pemkab Ngada telah menerjunkan tim relawan yang terdiri dari aparatur sipil negara (ASN) ke setiap desa. Tim ini bertugas melakukan verifikasi dan validasi data guna mengategorikan tingkat kerusakan rumah warga, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga berat. Data akurat ini nantinya akan menjadi dasar pemberian bantuan stimulan perbaikan rumah.

Selain kerusakan permukiman, bencana ini juga mengakibatkan 6 orang meninggal dunia. Sementara itu, korban luka-luka tercatat sebanyak 11 orang mengalami luka berat dan 107 orang luka ringan. Seluruh korban luka kini telah mendapatkan perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan sementara yang didirikan di lokasi-lokasi pengungsian.

Gempa juga merusak sejumlah fasilitas publik, meliputi gedung fasilitas kesehatan, rumah ibadah, akses jalan, hingga jaringan irigasi. Mengingat aktivitas gempa susulan yang mulai melandai berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masyarakat diimbau untuk tidak larut dalam trauma.

Warga diharapkan bisa kembali memulai aktivitas ekonomi dan keseharian secara bertahap dengan tetap menjaga kewaspadaan.

“Mari kita coba memulai kembali rutinitas seperti sediakala sebelum gempa, namun dengan tetap waspada. Bagi warga yang rumahnya rusak berat, kami harap mulai memikirkan rencana pembangunan hunian sementara sembari menunggu proses pemulihan dari pemerintah,” tutur Bupati Raymundus.

WBN

Share It.....