Sekolah Darurat Gempa, SDK Mataia Ngada Bertahan dengan Terpal Pinjaman, Kadis Urai Skema Bantuan

NGADA, WBN β€” Aktivitas belajar mengajar di wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mulai berdenyut kembali.

Kendati demikian, keterbatasan sarana prasarana memaksa sejumlah sekolah menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) di luar ruangan dengan fasilitas seadanya.

Hingga Selasa (8/9/2026), seluruh sekolah di Kabupaten Ngada dilaporkan telah memindahkan aktivitas KBM ke luar gedung demi keselamatan siswa. Langkah ini diambil menyusul struktur bangunan sekolah yang retak akibat gempa utama pada 15 Agustus lalu, ditambah kecemasan akibat belasan ribu gempa susulan yang masih terjadi.

Kondisi memprihatinkan salah satunya terlihat di SDK Mataia, Kecamatan Golewa. Sekolah ini terpaksa melaksanakan KBM dan pemulihan trauma (trauma healing) di bawah sebuah terpal pinjaman. Karena keterbatasan terpal dan belum tersedianya tenda darurat, sebagian kelompok siswa harus belajar di samping gedung perpustakaan dan teras sekolah.

Mereka rentan terpapar sengatan matahari langsung maupun risiko hujan.

“Keterbatasan ini tidak menyurutkan niat kami untuk memberikan yang terbaik bagi anak didik. Namun, kami cemas jika panas terlalu menyengat atau hujan turun karena hanya ada satu terpal pinjaman,” ujar Ermelinda Bupu, salah satu guru SDK Mataia, Selasa.

Ermelinda menambahkan, sekolah sebelumnya telah menerima bantuan logistik berupa makanan dan biskuit. Namun saat ini, kebutuhan yang paling mendesak bagi para siswa adalah tenda darurat dan terpal penutup.

Skema Bantuan Pemerintah

Merespons kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada Elisius Watungadha menyatakan, pemerintah daerah tengah berupaya memenuhi kebutuhan terpal dan tenda darurat bagi seluruh sekolah terdampak.

Elisius menjelaskan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menyiapkan dana stimulan untuk mendukung KBM darurat pasca-gempa di Flores.

Khusus di Kabupaten Ngada, terdapat lima sekolah yang sudah mendapatkan voucer bantuan langsung dari kementerian.

Pemerintah menerapkan dua skema bantuan keuangan untuk pemulihan sekolah:Skema Ruang Kelas Darurat (Satu Bulan): Dialokasikan sebesar Rp4 juta per sekolah untuk wilayah yang bangunannya tidak rusak secara fisik, namun siswanya mengalami trauma.

Dinas Pendidikan mengusulkan seluruh jenjang PAUD, SD, dan SMP di Ngada untuk mendapatkan skema ini agar bisa digunakan membeli terpal.

Berikutnya, Skema Pembelajaran Darurat (Enam Bulan): Dialokasikan sebesar Rp10 juta hingga Rp15 juta untuk sekolah yang mengalami kerusakan struktur berat.

“Sebelumnya, Dinas Pendidikan telah menyalurkan bantuan 80 terpal dari BNPB ke wilayah-wilayah prioritas. Sementara lima unit tenda darurat dari kementerian juga sudah disalurkan berdasarkan data pusdalops,” kata Elisius di ruang kerjanya.

Ia memastikan anggaran tanggap sekolah darurat tersebut akan segera cair dan ditransfer langsung ke rekening sekolah dalam waktu dekat agar dapat segera dibelanjakan sesuai kebutuhan di lapangan.

WBN

Share It.....