NAGEKEO, WBN – Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Labolewa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, mulai menghangat. Salah satu figur yang menarik perhatian publik adalah Yohanes Leonardi Masa Paga, S.IP, calon kepala desa nomor urut 1.
Berbekal pengalaman sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Labolewa saat ini, lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Widya Mandira Kupang ini membawa visi besar: membangun desa tanpa sekat dan ketergantungan.
Bagi Leonardi, keterlibatannya dalam politik tingkat desa ini bukan sekadar rutinitas administratif atau formalitas undang-undang. Ia menegaskan bahwa langkah ini lahir dari panggilan nurani yang mendalam untuk mengabdi secara total kepada tanah kelahirannya.
“Saya mengikuti perhelatan politik Desa Labolewa bukan sekadar memenuhi Undang-Undang, namun merupakan panggilan nurani untuk pengabdian demi memajukan desa ini. Saya ingin mempersembahkan dedikasi besar untuk Labolewa,” ujar Leonardi di Labolewa, Senin (12/10/2026).
Warga RT 09 Desa Labolewa ini mengusung visi besar untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang mampu menghadirkan kesejahteraan nyata, melalui pelayanan publik yang cepat, transparan, dan akuntabel.
Menurutnya, kesejahteraan hanya bisa dicapai jika potensi lokal, baik Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM), dikelola secara strategis sebagai sektor unggulan. Salah satu terobosan yang ia soroti adalah optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai motor penggerak ekonomi warga.
Leonardi menilai minimnya inovasi desa selama ini yang membuat pembangunan terlalu bergantung pada anggaran eksternal.
“Selama ini kita hanya berharap dari Anggaran Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD), minim inovasi desa untuk membantu Pendapatan Asli Desa (PAD),” tambahnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia berkomitmen menggandeng kaum muda dalam pengelolaan Bumdes, gerakan ekonomi kreatif, serta mengaktifkan kembali peran Karang Taruna.
Program 100 Hari yang Realistis
Berbeda dengan tren politik yang kerap mengumbar janji manis, Leonardi memilih bersikap realistis. Ketika ditanya mengenai program 100 hari kerja, ia secara tegas menolak memberikan janji muluk yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan desa saat ini.
“Jika dijanjikan program 100 hari kerja yang muluk-muluk, maka itu merupakan tindakan yang tidak relevan bahkan cenderung mengibuli masyarakat,” tegasnya.
Sebaliknya, ia memilih fokus pada dua instrumen mendasar dalam 100 hari pertamanya, yakni penataan kembali administrasi kependudukan dan penyelesaian tapal batas desa. Hal ini krusial mengingat adanya kesepakatan bersama untuk memekarkan Desa Labolewa, sehingga kepastian tapal batas yang aman secara hukum menjadi prioritas utama yang mendesak.
Di sektor agraria, Leonardi berencana melakukan pendataan ulang agar seluruh warga tani terakomodir dalam kelompok tani, sekaligus mendorong pemanfaatan lahan padi sawah pascapanen demi mendongkrak produktivitas. Infrastruktur pendukung seperti jalan usaha tani serta penguatan pendidikan anak usia dini (TK milik desa) juga masuk dalam skala prioritasnya.
Membongkar Pengkotakan Sosial
Di atas semua program fisik tersebut, komitmen terbesar Leonardi terletak pada tatanan sosial masyarakat. Menyadari bahwa kompetisi politik sering kali meninggalkan residu perpecahan, ia bertekad melakukan rekonsiliasi desa segera setelah terpilih.
Ia menolak keras adanya pengkotakan di tengah masyarakat hanya karena perbedaan pilihan dalam Pilkades. Pembangunan, menurutnya, mustahil berjalan tanpa adanya persatuan yang kokoh. Pendekatan yang akan ia gunakan adalah mengedepankan kembali semangat kekeluargaan dan tali-temali budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Untuk menjamin kontrol sosial dan keterbukaan informasi, ia berjanji akan menyediakan ruang berita Labolewa dan membuka kotak aspirasi warga sebagai bahan evaluasi pemerintah desa secara berkala. Sinergi pengawasan dana desa juga akan diperketat secara melekat, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
“Jika saya mendapat kepercayaan dari masyarakat, maka saya akan berjuang lebih keras lagi untuk menciptakan sejarah pelayanan yang akan meninggalkan jejak harum di Desa Labolewa. Kami ingin membangun desa ini bersama-sama, tanpa sekat,” pungkasnya optimis.
WBN
