Kunjungi KSP, Ketum Masda Jabar Abah Anton Charliyan Dorong Reformasi Budaya secara Sistematis

Media WBN|JAKARTA – Tim Majelis Adat Sunda (Masda) Jawa Barat di bawah pimpinan Abah H. Anton Charliyan melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Kantor Staf Presiden (KSP) RI pada Kamis (24/9/2026).

Kedatangan tim Masda Jabar ini diterima langsung oleh Kepala KSP, Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., bersama empat staf khususnya, yakni Letjen TNI (Purn) Arif Rahman, Mayjen TNI (Purn) Dedi Solihin, Mayjen TNI (Purn) Saiful, dan Prof. Dr. KH. Ahmad Tjahya.

Pertemuan hangat tersebut berlangsung di ruang kerja pribadi Gedung Bina Graha, Jakarta—ruang khusus yang dahulu digunakan oleh Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar TNI Soeharto.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala KSP Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan tim Masda Jabar sebagai duta budaya masyarakat Sunda. Ia menekankan bahwa di era globalisasi yang ditandai dengan digitalisasi dan transparansi tanpa batas, sebuah negara akan sangat rentan jika tidak dilandasi oleh akar budaya yang kuat.

“Era digital membawa risiko pudarnya nilai-nilai nasionalisme dan adab perilaku kesantunan, khususnya bagi Gen Z di masa kini dan masa depan. Oleh karena itu, penguatan dan pemajuan nilai budaya—terutama patriotisme, heroisme kepahlawanan, keberanian, keuletan, pantang menyerah, serta budi pekerti yang luhur—mutlak harus segera dilakukan. Tidak hanya oleh masyarakat Sunda, tetapi oleh seluruh bangsa Indonesia agar kita menjadi bangsa yang tangguh, santun, dan menjadi pejuang sejati ibarat para ksatria masa lalu,” ujar Dudung.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Masda Jabar, Abah H. Anton Charliyan, mengungkapkan bahwa sambutan langsung dari Kepala KSP merupakan kehormatan yang luar biasa bagi baraya masyarakat Sunda. Dalam momentum silaturahmi ini, Masda Jabar menyampaikan aspirasi agar pemerintah memberikan perhatian lebih dan memprioritaskan pelestarian serta penguatan nilai budaya.

Abah Anton memaparkan catatan sejarah global di mana bangsa-bangsa yang saat ini menjadi yang terdepan dan modern adalah mereka yang konsisten memelihara akar budayanya. Ia mencontohkan Tiongkok dengan budaya leluhurnya, Jepang dengan semangat bushido, Korea dengan etos kerjanya, India dengan keuletannya, serta Thailand dengan reformasi pertaniannya.

Bahkan di kawasan Eropa, meletusnya Revolusi Industri tetap diimbangi dengan nilai Renaissance (kelahiran kembali nilai budaya klasik). Negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, Swiss, Prancis, Denmark, dan Belanda pun tetap mempertahankan identitas budaya mereka, bahkan sebagian tetap menjaga sistem kerajaan (United Kingdom).

“Agar Indonesia bisa lebih maju dan modern, kita harus melaksanakan penguatan dan pemajuan kebudayaan sesegera mungkin. Bila perlu, lakukan reformasi kebudayaan secara sistematis. Sejarah membuktikan bahwa awal bangkitnya sebuah negara biasa menjadi bangsa yang modern tidak diawali dari reformasi angkatan perang, politik, atau ekonomi, melainkan dimulai dari reformasi budaya,” tegas Abah Anton.

Pertemuan dialogis yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut berjalan dengan sangat hangat dan penuh kekeluargaan, lalu diakhiri dengan sesi foto bersama.

(Editor ndra)

Share It.....