JAKARTA, WBN – Media sosial kini telah menjelma menjadi ruang publik tanpa sekat. Namun, belakangan ini sarana komunikasi tersebut kerap beralih fungsi menjadi panggung untuk mengumbar persoalan domestik. Fenomena saling sindir, membuka aib, hingga menyerang pasangan lewat status di media sosial dinilai justru menjauhkan masyarakat dari esensi penyelesaian masalah yang sesungguhnya.
Praktisi hukum asal Ngada, Flores Nusa Tenggara Timur, Gregorius Upi Dheo, S.H., M.H., menyoroti tajam tren negatif ini. Menurutnya, institusi pernikahan dan rumah tangga memiliki marwah yang harus dijaga, sehingga tidak sepatutnya diperlakukan layaknya sebuah program hiburan atau reality show.
“Kalau setiap masalah keluarga dibawa ke Facebook, saling sindir, saling buka aib, dan saling serang lewat status, lama-lama publik akan bingung. Ini sebenarnya ingin mencari solusi atau sekadar mencari penonton?” ujar Gregorius, Senin (12/10/2026).
Siklus Emosi di Ruang Publik
Gregorius mengamati adanya pola berulang yang kontraproduktif di media sosial. Seseorang kerap mengunggah tulisan saat marah atau kecewa, bahkan hingga membuka rahasia pasangannya. Namun, tidak jarang dalam hitungan hari, hubungan tersebut membaik kembali.
Pola instan ini pada akhirnya hanya meninggalkan kebingungan bagi masyarakat atau warganet yang telanjur larut dalam dinamika emosi tersebut. Media sosial, tegas Gregorius, bukanlah ruang sidang yang sah untuk memutus sebuah perkara domestik.
“Jika ada masalah serius, selesaikan di tempat yang benar. Bicarakan baik-baik, libatkan keluarga besar, mediator, atau jika memang ada pelanggaran hukum, tempuh jalur hukum yang semestinya,” lanjutnya.
Ia pun menganalogikan fenomena ini dengan istilah dapur rumah tangga. Ketika seluruh isi dapur dibuka lebar-lebar ke ruang publik, pemilik rumah tidak boleh terkejut jika orang asing pada akhirnya ikut masuk dan mencampuri urusan di dalamnya.
Ancaman Jejak Digital bagi Anak
Dampak yang paling berbahaya dari pelampiasan emosi sesaat di media sosial adalah runtuhnya kehormatan keluarga. Seseorang mungkin merasa puas atau menang di atas angin ketika mendapatkan pembelaan dan simpati dari warganet. Namun, kepuasan itu bersifat semu.
Gregorius mengingatkan pentingnya memikirkan masa depan generasi penerus. Jejak digital di internet bersifat abadi dan sulit untuk dihapus sepenuhnya.
“Hari ini mungkin merasa puas karena banyak yang membela. Tapi besok ketika keadaan sudah tenang, jejak digital tetap ada. Anak-anak bisa membaca, keluarga besar bisa melihat, dan orang lain bisa menyimpannya,” kata Gregorius mengingatkan.
Di akhir penjelasannya, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan matang sebelum menekan tombol unggah (posting). Setiap individu harus mampu berefleksi apakah tindakan tersebut dilakukan untuk menyelesaikan masalah atau justru memperkeruh keadaan.
Sebab, kedewasaan seseorang tidak diukur dari seberapa keras mereka bersuara di dunia maya, melainkan dari kemampuan memilah mana persoalan yang harus diselesaikan secara privat dan mana yang tidak perlu dijadikan tontonan publik.
WBN
