Oleh : Aurelius Do’o
Paket Pemimpin Kabupaten Ende Flores berdasarkan hasil Pemilukada Tahun 2018, Bupati (Almarhum) Ir, Marsel Petu, Wakil Bupati Ahmad Djafar dari usungan Koalisi Partai Partai Golkar, PDIP, Demokrat, PKB, PKS, Nasdem dan PKPI mengalami kekosongan Wakil Bupati Ende sejak Bupati Ende Almarhum Marsel Petu menghadap Sang Khalik.
Kedukaan besar hingga terjadi kekosongan kursi Bupati Ende. Selanjutnya, Wakil Bupati Ende Achmad Djafar dilantik mengisi kursi Bupati Kepala Daerah Kabupaten Ende. Ya, otomatis terjadi kekosongan kursi Wakil Bupati Ende.
Jas Kuning – Merah !
Jas Beringin Almarhum Marsel Petu, tentunya berwarna kuning sebagai warna Partai Golkar. Selanjutnya berpadu dengan Moncong Putih, Jas Merah PDIP yang dikenakan oleh Achmad Djafar sebagai Kader PDIP Kabupaten Ende. Minimal demikian warna M dan J, Paket MJ, warna dasar kuning-merah.
Almarhum Marsel Petu diketahui tidak hanya sebagai Bupati Ende terpilih, tetapi sebelum menjabat Bupati Ende, juga legal sebagai Ketua Partai Golkar Kabupaten Ende, Flores, NTT.
Fase Satu, Maju sebagai Calon Nomor 1 dengan kapasitas Ketua Golkar Kabupaten Ende, otomatis Ir Marsel Petu menempatkan Golkar sebagai Pengusung Utama dirinya sebelum bersilaturahmi ke rumah partai lain.
Kemudian, bergandengan tangan dengan PDIP melalui Figur Achmad Djafar. Maka terjadilah formasi kembar, Golkar-PDIP usung kader internal, Kuning-Merah garda terdepan dan melakukan loby-loby politik, jaring komunikasi hingga berhasil mengundang simpati mitra Parpol, melahirkan Koalisi Partai Politik.
Fase Dua, Terbentuklah yang namanya Koalisi Partai mengusung MJ, yakni Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, PKB, PKS, Partai Nasdem dan PKPI.
Pijakan fase ini menjunjung motto tunggal, motto bersama yang dapat disingkat dengan istilah “Mengusung”, bukan Merebut atau saling berebutan kursi. Dan tidak mungkin berebutan, kursinya hanya 2, kursi Bupati dan kursi Wakil Bupati.
Koalisi secara bulat mengusung untuk MJ atau Marsel-Djafar. Dengan demikian, jelas tertulis : Demokrat, PKB, PKS, Nasdem, PKPI usung Kuning-Merah sebagai warna dasar, baru diapiti kelambu koalisi besar, usung Marsel-Djafar.
Penulis mencoba berikan satu sandi untuk fase-fase tersebut, yakni “Mengusung”.
Fase Tiga, Pemilukada Ende toreh kemenangan. MJ ditetapkan, dilantik dan menjalankan amanat besar sebagai Paket Pemimpin terpilih.
Fase Empat, Kedukaan menyelimuti Kabupaten Ende Lio, Bupati Ende (Almarhum) Marsel Petu pergi untuk selamanya. Seterusnya terjadi kefakuman kursi Bupati, dan terisi kembali oleh Wakil Bupati Djafar, sebaliknya, kursi Wakil Bupati yang ditempati Achmad Djafar mengalami kekosongan.
Dua nama disebut-sebut mengerucut mengisi lowongan, yakni Heri Wadhi yang adalah Ketua Golkar Kabupaten Ende, berikutnya Dokter Domi Mere diketahui tengah menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur berasal dari Kabupaten Ende.
Ketua DPD I Golkar NTT, Melkiades Laka Lena kepada para media menjawab wawancara, menyebut dua nama di atas sudah di-internalisasi Partai Golkar dalam agenda mengisi lowongan Wakil Bupati Ende.
Diantara ini, tarik menarik kepentingan koalisi di Kabupaten Ende, pasalnya alot. Ya, Dinamika wajar adanya, semoga tidak enggan untuk saling ‘timbang rasa’.
Kembali Ke Fase Dua
Semangat, Sandi, Motto dan Kesepakatan Politik Koalisi Besar MJ adalah “Mengusung”. Ya, Kuning-Merah sebagai warna dasar. Hal itu dikukuhkan dengan daulat publik melalui kemenangan MJ untuk Pemilukada Kabupaten Ende.
Kata ‘Mengusung” memang nampak begitu “sederhana”, tetapi disepakati kata itu padat mutu, padat pula moral, pada pengetahuan dan etika, sebagaimana konteksnya.
Politik kadang seperti ilmu yang sangat sulit ya untuk diketahui. Namun, Politik juga sebenarnya tidak begitu rumit. Sebaliknya, mudah dicerna, dapat dipahami, bisa di-implementasi, karena politik juga mempunyai terang dan bendera-ng-nya.
Sesungguhnya, tentang MJ adalah tentang Golkar dan PDIP sesuai sandi usung-an koalisi, Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, PKB, PKS, Partai Nasdem dan PKPI untuk MJ.
Koalisi terbentuk dengan semangat itu, menjunjung formasi itu, tidak diproklamirkan untuk merubah formasi dan ataupun sandi gerakan.
Lantas, bagaimana menjaga formasi jika salah satu diantaranya tiada?.
Pertanyaan jenis ini jangan disebut pertanyaan super berat. Sebab, jawabannya sangat sederhana, yakni cukup melihat warna jacket apa yang hilang dalam masa kepemimpinan Paket MJ, itu rambu berpolitik yang baik.
Mata hati dan mata ratio tidak boleh lewati cara pandang dan cara berdiri menalar dengan melihat itu.
Jika tidak, maka kita tengah membuat lompatan (jingkrak-ber-jingkrak ria) yang nampaknya tidak elok, apalagi terjadi di hadapan bangsa dan di hadapan panggung pendidikan politik untuk negeri ini.
Timbang Rasa
Timbang Rasa memang bukan ilmu tersohor untuk dijadikan kompas utama bagi panggung politik praktis.
Tetapi, Timbang Rasa adalah juga Ibu untuk Merasa, termasuk dalam hal Politik. Sebab, Politik adalah pertanggungjawaban manusia yang mengandung nilai-nilai, mendesak rasa, tanpa kecuali moral, etika maupun pengetahuan.
Good will atau niat baik harus dikedepankan, demi bisa menaiki tangga demi tangga dari Timbang Rasa. Fase demi fase politik yang dilalui harus tau politik Timbang Rasa, dan itulah sandi “Mengusung” MJ yang sesungguhnya.
Maka, untuk dinamika Kabupaten Ende, dan Ende sebagai bagian dari Indonesia, jangan sekalipun pertanyakan mengapa ketika momen pengisian kursi Wakil Bupati Ende, nampak dari mana-mana bertamasya ke Kabupaten Ende Flores dan memberi perhatian serta pikiran dan refleksi untuk Ende Lio.
Sebab, Kabupaten Ende tidak sedang lock down untuk segala perhatian, refleksi dan partisipasi segenap warga bangsa dalam berdemokrasi multi tatanan.
Lalu, siapa yang harus menggantikan M dari J dalam formasi kepemimpinan untuk Ende Lio?.
Sangat sederhana, yakni gunakan politik legowo ‘Jas Kuning lah yang harus di-usung mengganti Jas Kuning Almarhum Ir Marsel Petu.
Dua jas, yakni Kuning – Merah tidak boleh bermutasi secara frontal usai kepergian almarhum yang juga meninggalkan jasa-jasa dan kenangan untuk Ende Lio dan juga untuk rekan-rekan koalisi pengusung MJ.
Kuning Merah sebagai warna dasar tidak patut bermutasi secara frontal meski berubah posisi, PDIP Nomor 1, Golkar nomor 2, namun tidak extreem merubah sandi utama dengan cara melakukan lompatan extra hingga mengesampingkan fakta Marsel-Djafar.
Jika terjadi perubahan warna pasca kepergian Almarhum Ir Marsel Petu, maka bisa dikata, sesungguhnya ada yang tidak elok, dan itu bisa dikata anomali politik niat baik telah terjadi di bumi Ende Lio Flores.
Logic dan etic untuk kursi Wakil Bupati Ende adalah Timbang Rasa. Dalam rasa ada pengetahuan, moralitas, etika dan ada energy kemanusiaan. Harus berani merasa Golkar berhak mendapat porsi dan itu bukan lagi soal politik semata, tetapi juga soal kepekaan yang sangat bernilai dan saling meneguhkan. Ya, minimal demikian.
Timbang Rasa Isi Lowongan Wakil Bupati Ende Flores !,
Jangan Banyak Retorika dan Terori, jika Rasa enggan di-timbang !
Tulisan ini juga termuat dalam Catatan Pojok LN F. Indonesia News.
Penulis : Aurelius Do’o, Jurnalis. (Marc, 03, 2021)
