Lestarikan Musik Tradisional Foi Doa Ngada, Generasi Muda Diajak Rawat Identitas Budaya

NGADA, WBN — Yayasan Detak Nada Bambu bersinergi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur menggelar Pameran dan Pentas Seni Sadar Tradisi Foi Doa di Aula STKIP Citra Bakti Ngada, pada Rabu (12/8/2026).

Kegiatan ini bertujuan menguatkan kembali pelestarian warisan budaya lokal sekaligus mengikis kepunahan seni tradisi di kalangan generasi muda. Festival kebudayaan yang mengusung tema ”Merawat Tradisi Menginspirasi Generasi melalui Seni dan Budaya” ini melibatkan pelajar usia dini dari sejumlah sekolah di wilayah Golewa Kabupaten Ngada.

Rangkaian acara meliputi lomba menggambar Foi Doa di Seminari Santo Berkhmans Todabelu Mataloko, lokakarya (workshop) Foi Doa di empat sekolah, dan berpuncak pada acara pameran dan pentas seni.

Ketua Yayasan Detak Nada Bambu Ngada, Philipus Yohanes Riwu Pandek, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari komitmen untuk memberikan ruang kreasi yang edukatif bagi anak-anak. Menurut dia, ruang kolaborasi seni seperti ini harus terus diperkuat guna menjaga identitas budaya di tengah gempuran modernisasi.

Apresiasi senada disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Ngada. Membacakan sambutan tertulis Bupati, Penjabat Sekretaris Daerah Ngada Yohanes Ghae menegaskan bahwa Foi Doa bukan sekadar alat musik tiup tradisional yang menghasilkan bunyi indah.

“Warisan budaya Foi Doa sangat berharga karena mengandung sejarah, identitas, dan filosofi mendalam masyarakat Ngada. Pemerintah daerah berkomitmen terus mendukung segala bentuk ekspresi, edukasi, dan pelestarian kebudayaan. Budaya yang hidup akan memperkuat karakter masyarakat sekaligus daya tarik daerah,” ujar Yohanes.

Melalui ruang kolaborasi berkelanjutan antara komunitas, sekolah, dan pemerintah, seni tradisi Foi Doa diharapkan tidak hanya menjadi artefak masa lalu, melainkan tetap hidup dan menginspirasi generasi mendatang.

WBN

 

Share It.....