Melawan Hoaks Pascabencana : Video Viral Aimere Direkam Setelah Gempa

Dalam video seorang pemuda mengenakan baju kuning berteriak bahwa Malaikat Mikael masuk dalam tubuhnya. Malaikat mengingatkan warga agar segera lari sebab sebentar lagi akan terjadi bencana”, 

NGADA, WBN — Penyebaran informasi palsu atau hoaks pascabencana alam kembali menjadi tantangan serius di tengah masyarakat. Di tengah situasi krisis, narasi yang keliru tidak hanya memicu kepanikan, tetapi juga rentan dipolitisasi.

Guna meluruskan kesimpangsiuran informasi, kehati-hatian dalam memverifikasi data menjadi tanggung jawab kolektif yang mendesak.

Sebuah rekaman video yang beredar luas di media sosial pasca Gempa Flores M 7,7 (15/8/2026) yang diklaim diambil sebelum peristiwa gempa bumi di Aimere, dibamtah dan diluruskan. Penelusuran fakta dan kesaksian langsung dari lokasi kejadian membantah narasi tersebut.

Sekretaris Lurah Foa. Kecamatan Aimere Kanupaten Ngada NTT,  Laurensius Nodhe kepada WBN, Minggu (16/8/2026) pagi, sebagai saksi mata di lokasi kejadian memberikan klarifikasi mendalam mengenai kronologi sebenarnya.

Menurut penuturannya, video yang viral tersebut tidak diambil sebelum bencana, melainkan sekitar 30 hingga 60 menit setelah guncangan gempa mereda.

“Saya berada langsung di lokasi saat video itu direkam. Narasi yang menyebutkan video itu diambil sebelum gempa adalah tidak benar atau hoaks,” ujarnya.

Sekretaris Lurah Foa. Kecamatan Aimere Kanupaten Ngada NTT, Laurensius Nodhe
Sekretaris Lurah Foa. Kecamatan Aimere Kabupaten Ngada NTT, Laurensius Nodhe

Berdasarkan kesaksiannya, sesaat setelah gempa mengguncang, ia memprioritaskan evakuasi seluruh anggota keluarganya ke area perbukitan yang lebih aman. Sekitar setengah jam kemudian, ia memutuskan kembali ke kawasan pesisir untuk memastikan kondisi kediamannya sekaligus memantau situasi perairan di Pelabuhan Aimere.

Situasi di lapangan menunjukkan aktivitas warga yang relatif terkendali. Di lapangan sepak bola yang terletak tepat di depan pelabuhan, sejumlah penumpang beserta kendaraan mereka tampak terparkir. Mereka tengah menunggu kepastian jadwal keberangkatan kapal rute Aimere menuju Kupang.

Kondisi serupa terlihat di dalam area pelabuhan. Sejumlah warga lokal dan kerabat tampak berkumpul dalam suasana tenang. Beberapa di antaranya mengobrol, menikmati kopi, atau membeli sarapan karena sebagian pedagang setempat memilih untuk tetap membuka usahanya pascaguncangan.

“Saya bahkan sempat berseloroh kepada para pedagang yang saya kenal, mempertanyakan mengapa mereka tetap tenang berdagang di tengah situasi darurat,” lanjutnya.

Ketenangan warga lokal dan sebagian penumpang didasari oleh pengamatan visual terhadap kondisi laut. Air laut saat itu hanya mengalami surut normal yang dalam istilah lokal disebut “meti”, bukan surut ekstrem yang lazim menjadi penanda awal terjadinya gelombang tsunami.

Sesaat sebelum saksi mata hendak kembali ke lokasi pengungsian keluarga, momen histeris yang terekam dalam video terjadi ketika salah seorang kerabatnya berteriak spontan, sebagaimana yang terdengar dalam rekaman yang beredar.

“Klarifikasi kronologis ini sengaja disusun sebagai bentuk tanggung jawab sosial untuk menghentikan pelabelan negatif, stereotip, dan stigma yang menyudutkan kelompok keagamaan tertentu di ruang digital. Dalam situasi pascabencana, sensitivitas sosial meninggi, sehingga penyebaran kabar bohong dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memicu polarisasi”, ujarnya.

“Dalam video seorang pemuda mengenakan baju kuning berteriak bahwa Malaikat Mikael masuk dalam tubuhnya. Malaika mengingatkan warga agar segera lari sebab sebentar lagi akan terjadi bencana”, tambahnya.

Publik diimbau untuk lebih bijak dan menahan diri dalam menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Menjaga ruang digital tetap bersih dari hoaks bukan sekadar upaya meluruskan informasi, melainkan langkah nyata dalam melindungi martabat kemanusiaan dan keharmonisan antarumat beragama.

WBN

Share It.....