Yayasan Peduli Cinta Indonesia Gelar Pemulihan Trauma Anak-anak Korban Gempa Flores

NTT, WBN — Penanganan pascabencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pertengahan Agustus 2026, tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik.

Pemulihan kondisi psikologis warga, terutama anak-anak yang mengalami trauma, juga menjadi prioritas mendesak. Guna memulihkan kondisi psikologis tersebut, Yayasan Peduli Cinta Indonesia (YPCI) bersama Relawan Forum Pemuda NTT menyelenggarakan kegiatan pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak di Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Flores, Rabu (2/9/2026).

Pembina YPCI, Andy Opa Gaul, mengatakan bahwa kehadiran timnya di Waturaka bertujuan untuk mengembalikan keceriaan dan rasa aman anak-anak yang sempat hilang akibat bencana. Selain menyalurkan bantuan logistik, pendekatan psikososial dinilai sangat penting untuk mencegah trauma berkepanjangan.

“Kami hadir tidak hanya untuk membagikan bahan pokok, tetapi yang lebih utama adalah menemani dan menghibur anak-anak di sini agar kecemasan mereka perlahan hilang,” ujar Andy di sela-sela kegiatan.

Lebih dari 150 anak mengikuti berbagai aktivitas rekreatif dan edukatif yang dipandu oleh tim relawan. Andy juga mengajak para psikolog, sukarelawan, dan berbagai pihak luar untuk memperluas gerakan pendampingan psikososial ini ke wilayah terdampak lainnya di Flores.

Gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 menjadi pengalaman traumatis bagi sebagian besar anak di wilayah tersebut. Guncangan kuat yang baru pertama kali mereka rasakan menyisakan rasa takut yang mendalam. Tokoh masyarakat Desa Waturaka, Yohanes Karib, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif tersebut. Menurutnya, bantuan pemulihan mental seperti ini sangat dibutuhkan karena keterbatasan fasilitas dan tenaga ahli di desa mereka.

“Kegiatan ini sangat membantu menghibur anak-anak kami. Jujur, mereka masih trauma karena ini adalah pengalaman pertama mereka merasakan guncangan gempa yang begitu besar,” kata Yohanes.

Upaya pemulihan pascabencana yang menyeluruh sejatinya memang melibatkan dua aspek penting. Sementara pemerintah daerah berfokus pada rekonstruksi bangunan yang rusak, intervensi kemanusiaan dari komunitas relawan mengisi ruang pemulihan mental masyarakat demi membangun kembali harapan masa depan mereka.

WBN

Share It.....