Pasca Gempa Sikka: Korban Jiwa Bertambah, 3.645 Warga Masih Mengungsi

MAUMERE, WBN — Kerusakan akibat gempa bumi tektonik yang mengguncang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, dilaporkan meluas.

Berdasarkan data mutakhir Posko Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka hingga Kamis (3/9/2026), jumlah rumah warga yang rusak melonjak hingga 9.185 unit.

Lonjakan angka kerusakan ini terjadi setelah tim reaksi cepat di lapangan merampungkan pendataan gelombang kedua. Saat ini, proses penanganan dampak bencana difokuskan pada validasi data korban dan pemulihan infrastruktur dasar.

Verifikasi data

Posko Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Sikka membagi proses verifikasi data kerusakan rumah warga ke dalam dua tahap utama untuk memastikan ketepatan penyaluran bantuan stimulan. Pada tahap pertama, enumerator telah memvalidasi 4.248 unit rumah warga. Rinciannya terdiri dari 939 unit rusak berat, 852 unit rusak sedang, dan 2.457 unit rusak ringan.

Sementara pada tahap kedua, yang saat ini masuk dalam proses pemadanan Nomor Induk Kependudukan (NIK) serta Kartu Keluarga (KK), tercatat ada 4.937 unit rumah.

Jumlah ini meliputi 719 unit rusak berat, 1.122 unit rusak sedang, dan 3.096 unit rusak ringan. Selain hunian warga, guncangan gempa juga merusak 291 unit fasilitas umum dan infrastruktur pelayanan publik. Kerusakan sektor publik ini mencakup 91 unit fasilitas kesehatan, 79 rumah ibadah, 75 bangunan kantor pemerintah, 38 fasilitas pendidikan, 10 unit prasarana, serta 8 ruas jalan.

Korban dan pengungsian

Pembaruan data terkini juga mencatat penambahan satu korban jiwa, sehingga total korban meninggal dunia dan luka-luka kini menjadi 55 orang. Dari jumlah tersebut, 6 orang dinyatakan meninggal dunia, 26 orang luka berat, dan 23 orang luka ringan.

Secara keseluruhan, total masyarakat yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka mencapai 352.794 jiwa. Komposisi warga terdampak terdiri dari 49 persen laki-laki dan 51 persen perempuan.

Hingga saat ini, sebanyak 3.645 jiwa atau 972 keluarga masih bertahan di posko-posko pengungsian yang tersebar di tiga kecamatan. Pulau Palue menjadi wilayah dengan konsentrasi pengungsi terbesar, yakni menampung 3.340 jiwa (892 KK).

Para pengungsi di wilayah kepulauan ini menempati tiga titik utama, yaitu Posko Rokirole, Posko Nitunglea, dan Posko Lidi.Titik pengungsian lainnya berada di Kecamatan Kangae yang menampung 236 jiwa (60 KK) di delapan posko, antara lain Posko Habi, Meken Detung, Teka Iku, Watumilok, Langir, Tana Duen, Watuliwung, dan Blata Tatin.

Sementara di Kecamatan Nita, terdapat 69 jiwa (20 KK) pengungsi yang tersebar di Posko Dusun Surajawa dan Posko Riit.

Pemerintah Kabupaten Sikka bersama BPBD terus mempercepat validasi data lapangan agar penyaluran bantuan stimulan perbaikan rumah serta rehabilitasi fasilitas publik dapat berjalan tepat sasaran.

WBN

Share It.....