NGADA, WBN — Penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada pertengahan Agustus 2026 masih terus berjalan.
Kali ini, aksi solidaritas menyasar warga rentan yang belum tersentuh bantuan di wilayah Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aksi kepedulian tersebut diinisiasi oleh seniman sekaligus aktivis kemanusiaan, Melanie Subono, melalui gerakan Rumah Harapan. Distribusi bantuan di lapangan digerakkan oleh relawan jaringan Rumah Harapan Lembata, Alfian Rayabelen
Mereka menyisir para korban bencana yang masih luput dari perhatian.Pada Rabu (9/9/2026), bantuan paket bahan pokok dan telur ayam disalurkan kepada sedikitnya sepuluh keluarga dengan titik kumpul Komples Pensiunan Kelurahan Mataloko.
Mayoritas penerima manfaat adalah perempuan lansia berstatus janda yang hidup bersama anak dan cucu mereka. Para penerima bantuan ini berasal dari beberapa kampung, antara lain Mataloko, Dolu, Sobo, Mangulewa, dan Waeia.
Distribusi ini sekaligus menyingkap persoalan klasik dalam penanganan pascabencana, yakni akurasi data penerima bantuan. Sejumlah warga mengaku tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat karena terbentur aturan administratif.
Monika Muwa (65), seorang petani dan janda lansia yang menghidupi cucunya, meneteskan air mata saat menerima paket bantuan tersebut. Ia menceritakan bahwa dirinya sempat dicoret dari daftar penerima bantuan kedaruratan yang dibagikan.
“Pemerintah sempat membagikan bahan pokok, tetapi saya tidak dapat jatah. Petugas mengatakan saya tidak berhak karena sudah terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) rutin tiga bulanan sejak sebelum gempa. Padahal, rumah dan hidup kami sama-sama susah akibat gempa ini,” ujar Monika lirih.
Bagi Monika dan beberapa warga lain, paket dari Rumah Harapan ini merupakan bantuan kedaruratan bencana pertama yang mereka terima sejak gempa mengguncang sebulan lalu. Keluhan serupa juga diungkapkan oleh warga lain, seperti Arlin Nango, Theresia Dhango, dan Marselina Wata.
Mereka menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kepedulian para relawan yang mau melihat langsung kondisi mereka di pelosok.
“Terima kasih banyak untuk Ibu Melanie Subono, Rumah Harapan, dan para relawan di lapangan. Bantuan ini sangat berarti untuk menyambung hidup kami saat ini,” ucap mereka secara bergantian.
Hingga saat ini, para relawan kemanusiaan di Flores masih terus melakukan pemetaan di lapangan. Langkah ini diambil guna memastikan warga yang berada di wilayah terisolasi atau mereka yang tereliminasi oleh sistem pendataan birokrasi tetap mendapatkan bantuan logistik yang memadai.


WBN
