Surat Pemda Ngada dan Bahasa Hati
Antonius Ndiwal, Warga Ngada-NTT

Oleh: Antonius Ndiwal, Warga Ngada-NTT

Senin, 07 September 2026. Hari itu langit kota Bajawa mendung. Persis menggambarkan situasi batin orang Ngada yang belum pasti, bagai mendung yang belum tentu hujan. Di beberapa titik, tenda BNPB hingga terpal masih jadi atap. Anak-anak belajar di bawah tenda. Petugas dari instansi terkait silih berganti mendata kerusakan. Beberapa tempat sering disorot karena lebih terdampak. Nama-nama penyumbang terus dilitanikan di ujung doa.

Di tengah suasana itu, Pemerintah Kabupaten Ngada mengeluarkan Surat Penegasan No. 443.2/Pem/94/09/2026. Isinya sederhana dan hanya 3 poin: jangan berpesta.

Di atas kertas, ini surat administratif biasa. Tapi bagi saya yang tinggal dan merasakan denyut Ngada, ini bukan sekadar surat.

Hemat saya, surat Pemda Ngada ini bukan sekedar derajat aturan birokrasi, melainkan suatu ajakan radikal ke tindakan spiritual-sosial. Ini adalah bahasa hati negara. Bahasa yang jarang kita dengar di masa bencana.

Perlu saya garis bawahi bahwa saya menulis ini bukan untuk menguntungkan siapapun. Saya mengambil jarak dengan semua pihak termasuk Pemerintah untuk menanggapi surat Pemda secara mandiri.

 

*1. Bahasa Hati bernama “Rasa”*
Biasanya kita kenal negara dari bansos, tenda, alat berat, dan mobil dapur umum. Itu penting. Tapi kali ini negara berbahasa lain: _”Menunjukkan simpati, empati dan berbela rasa.”

Filsuf Emmanuel Levinas bilang: etika dimulai saat wajah orang lain menatap kita. Saat kita tidak bisa lagi berpaling.

Hari ini wajah penyintas gempa sedang menatap kita. Ada ibu-ibu yang sudah bermalam-malam tidur dengan anaknya di pelataran posko. Ada bapak-bapak yang menatap reruntuhan rumah sambil memegang KTP dalam kebingungan.

Mereka bertanya dalam diam: di manakah negara? Ke mana kekuasaan?

Surat ini menjawab: “Kami ada. Kami ikut menahan diri.”

Pemerintah tidak hanya datang membawa beras. Pemerintah juga datang dengan menunduk. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan moral. Karena kepemimpinan sejati diukur bukan saat membagi bantuan, tapi saat berani ikut merasakan duka.

*2. Bahasa Hati bernama “Menunda”*
Pesta adalah hak. Kumpul keluarga, musik, tawa, sirih pinang itu kebutuhan sosial orang Ngada. Seumur hidup kita diajarkan: suka dibagi, duka dipikul bersama.

Tapi surat ini minta kita menunda. Mengapa? Karena di tetangga rumah, di seberang kampung, masih ada saudara yang tidur di bawah terpal. Masih ada keluarga yang belum tahu mau makan dari mana besok.

Paul Ricoeur menyebutnya  “hidup baik bersama dan untuk orang lain”. Kebebasan saya berhenti di mana luka sesama dimulai.

Di Ngada hari ini, sukacita kita tunda agar duka tidak sendirian. Kita ikut solider dengan sesama yang paling terdampak. Ketika kita tidak bisa membantu dengan harta, dengan pikiran, dengan tenaga, maka kita cukup bersedia untuk tidak “berjoget” di samping sesama yang perih hatinya.

Menunda pesta bukan mematikan budaya. Justru ini bentuk tertinggi menghargai budaya: tahu kapan waktunya merayakan, tahu kapan waktunya berkabung.

*3. Bahasa Hati bernama “Kita”*
Coba lihat alamat tujuan suratnya: Pimpinan Perangkat Daerah, Camat, Kepala Desa/Lurah, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat.

Tidak ada kata “saya”. Semua tujuannya “kita”. Lakukan koordinasi, sampaikan pesan moral ini, dan laksanakan.

Ini filosofi Gotong Royong ala Ki Hajar Dewantara yang hidup lagi. Juga nilai kerjasama dan belarasa orang Ngada sebagai bukti bahwa kita satu rumah besar.

Bencana meruntuhkan rumah, tapi membangunkan kesadaran: kita satu tubuh. Kalau satu anggota sakit, semua ikut menahan diri. Camat tidak bisa kerja sendiri. Kades tidak bisa jalan sendiri. Tokoh agama harus bersuara dari mimbar. Tokoh adat harus mengingatkan dari rumah adat. Baru “kita” jadi nyata.

*4. Bahasa Hati bernama “Liturgi”*
Menahan pesta bukan mematikan hidup. Ini adalah “liturgi kemasyarakatan”. Ritual sunyi yang berkata: _kami menghormatimu wahai saudaraku yang sedang berduka._

Sama seperti masa Prapaskah. Sama seperti masa kabung di kampung kita. Ada pantang dan puasa. Ada diam dan menyepi, hingga doa.
Ada waktu berkabung. Ada waktu bangkit. Dan Pemkab Ngada sedang mengantar kita masuk ke waktu berkabung bersama.

Di masa liturgi kemasyarakatan ini kita diajar 3 hal: menahan diri, menengok sesama, dan menata hati. Setelah masa ini selesai, baru kita bangkit dengan sukacita yang lebih utuh.

Satu lembar surat ini bisa jadi tonggak sejarah kecil di Ngada. Bahwa negara tidak hanya mengurusi perut, tapi juga jiwa.
Bahwa pemimpin tidak hanya membagi bantuan, tapi juga memberi teladan menahan diri. Bahwa menjadi warga negara bukan cuma soal hak, tapi juga soal rasa.

Flores sedang berduka. Rumah retak, sekolah rusak, puskesmas rusak, gereja roboh. Tapi di tengah duka, kita belajar lagi arti menjadi manusia. Arti menjadi orang Ngada. Arti menjadi Indonesia.

Surat ini akan berlalu. Gempa akan pulih. Tapi semoga bahasa hati ini tinggal.
Agar kelak ketika Ngada bangkit, kita bangkit sebagai komunitas yang tidak melupakan siapa pun.

Ngada berduka. Pemimpin berempati. Ngada bangkit.

Penulis : Antonius Ndiwal, adalah Warga Ngada, NTT. Menulis dari Riung Barat Ngada di tengah masa pemulihan pascagempa.

Antonius Ndiwal
Warga Ngada, NTT.
Menulis dari Riung Barat Ngada di tengah masa pemulihan pascagempa

Share It.....