NTT, WBN — Satu bulan pasca gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang sebagian wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), penanganan bencana kini memasuki fase transisi dari darurat menuju pemulihan.
Kapolres Ngada AKBP Dr. Gede Harimbawa, S.E.,S.H. M.H. M.I.Kom memastikan seluruh personel tetap siaga untuk mengawal proses pemulihan masyarakat di wilayah terdampak.
Kapolres menyatakan, meskipun masa tanggap darurat di Kabupaten Ngada berakhir pada Selasa (15/9/2026), pelayanan dan pengamanan kepolisian tidak akan kendor.
“Setelah selama satu bulan penuh kami berjibaku bersama Forkopimda, BNPB, TNI, dan seluruh elemen masyarakat di masa tanggap darurat, kini kami bersiap memasuki tahapan selanjutnya. Polri tetap dalam kondisi siaga pelayanan,” ujar Kapolres Gede saat ditemui di Mapolres Ngada, Bajawa, Selasa.
Ia menambahkan, fokus utama kepolisian saat ini adalah mendukung pemulihan ekonomi daerah secara bertahap, menjamin kelancaran distribusi bahan pangan pokok, serta membantu normalisasi aktivitas warga.
Polres Ngada juga ikut mengawal agenda penyediaan hunian sementara (huntara) bagi pengungsi.
“Polres Ngada siap memfasilitasi kebutuhan sektor pendidikan, termasuk mendistribusikan bantuan tenda darurat bagi sekolah-sekolah yang bangunannya terdampak gempa,” lanjutnya.
Untuk memulihkan kondisi psikologis warga, personel Polres Ngada hingga tingkat kepolisian sektor (polsek) akan dikerahkan untuk menggelar program pemulihan trauma (trauma healing), khususnya di wilayah dengan dampak kerusakan paling berat.
Selain aspek psikologis, kepolisian juga berpartisipasi dalam penyediaan fasilitas sanitasi berupa pembangunan tempat mandi, cuci, kakus (MCK) serta akses air bersih.
Distribusi bantuan sosial (bansos) juga dipastikan akan terus dikawal agar tersalurkan secara merata ke seluruh wilayah yang membutuhkan.
Polri berkomitmen mendukung dan berpartisipasi aktif dalam seluruh upaya pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Ngada pascabencana.
WBN
