Sisa Sujud yang Runtuh: Jejak Duka dan Harapan dari Kapela Maunori Nagekeo

Catatan Jurnalis, Aurelius Do’o

Bumi Flores tidak pernah meminta untuk diuji sekeras ini. Namun, ketika gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 mengguncang, dan belasan ribu susulan yang terus menghentak tanpa ampun, Flores dipaksa memeluk kedukaan dalam kesunyian yang mencekam.

Di antara puluhan ribu bangunan yang luluh lantak dan ratusan jiwa yang berpulang menjadi kenangan, ada luka yang kasat mata pada fisik bangunan.

Namun, di balik itu semua, ada duka yang merayap jauh lebih dalam, menyelinap ke bilik sukma kemanusiaan kita. Jejak kelam itu terpahat nyata di sudut Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo.

Di sanalah berdiri Kapela Maria Asumpta Lewa, sebuah rumah doa kecil di bawah naungan Paroki Hati Kudus Yesus Maunori.

Melalui bidikan lensa awak media Warisan Budaya Nusantara (WBN) pasca gempa, dunia disuguhi potret pilu dari sebuah ruang sakral yang kini kehilangan keutuhannya.

Fondasi bangunan itu goyah, dinding-dinding betonnya terbelah, dan atapnya tak lagi mampu menaungi dari terik serta hujan. Kemegahan yang bersahaja itu runtuh. Berbagai ornamen liturgis Katolik di dalamnya, yang biasanya menjadi sahabat doa-doa sunyi umat kepada Yang Maha Kuasa, terserak di lantai.

Pemandangan itu seolah meniru rapuhnya raga, manusia di hadapan kuasa alam yang mahabesar.

Melihat reruntuhan Kapela Maria Asumpta Lewa bukan sekadar meratapi semen, pasir, dan batu yang hancur.

Di balik dindingnya yang retak, ada tangis lirih umat yang kehilangan tempat mengadu dan merebahkan lelah batin. Bencana ini melahirkan duka komunal; sebuah tempat yang biasanya merayakan kehidupan dan harapan, kini justru berdiri sebagai simbol betapa fananya eksistensi insan manusia.

Gempa telah meninggalkan torehan luka yang teramat dalam, memaksa siapapun yang melihatnya untuk merenungkan kembali arti ketabahan di tengah bentangan bumi yang sedang terluka.

Namun, di atas tanah Flores yang retak, kapela yang terluka ini tidak sedang meratap. Ia seolah sedang berbisik dalam hening kepada kita yang masih diberi kesempatan mendengar.

Pesan itu lugas: bangunan fisik bisa runtuh ke tanah dan altar suci bisa patah menjadi dua.

Akan tetapi, jejak iman yang mengakar di dalam dada serta solidaritas kemanusiaan sesama manusia tidak akan pernah bisa tertimbun oleh puing-puing bencana.

Puing itu justru memanggil kita untuk kembali mengulurkan tangan, membangun kembali tidak hanya sebuah kapela, melainkan juga harapan yang sempat retak.

Kekuatan solidaritas dan empati kemanusiaan kita harus jauh lebih dahsyat dari energy 7,7 magnitudo gempa utama itu, beserta belasan ribu kali susulannya.

Semoga

Jurnalis WBN, Aurelius Do’o

Share It.....