NAGEKEO, WBN — Beberapa tahun lalu, melintasi Aegela saat hari merambat gelap adalah ujian nyali. Jalurnya sepi senyap, dikepung vegetasi liar, dan kerap dilekati cerita mistis oleh warga sekitar.
Pengendara cemas bukan hanya karena cerita angker, melainkan ketakutan nyata akan tangki bahan bakar yang mengering di tengah jalan yang sunyi.
Namun, bentang kecemasan itu runtuh sejak sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak berdiri di sana. Cahaya lampu dari stasiun pengisian itu kini menembus gulita Aegela hingga larut malam, sekaligus menyalakan sumbu perekonomian warga yang lama meredup.
Di bawah naungan terpal lapak kecilnya, tak jauh dari pompa bensin, Agustina (49) tampak sibuk melayani pembeli. Jemarinya yang mulai berkerut dengan cekatan membungkus camilan lokal sembari sesekali melempar canda kepada para sopir yang singgah.
“Dulu, modal saya cuma baskom kecil. Isinya telur rebus, jagung, dan keripik singkong,” kenang perempuan berambut ikal itu.
Kehadiran SPBU merubah segalanya. Mobilitas kendaraan yang meningkat drastis membuat lapak baskomnya berevolusi menjadi warung kelontong. Berbekal kepastian keramaian itu, Agustina berani mengambil pinjaman kredit untuk memperbesar usahanya. Hasilnya nyata.
Dari keuntungan menjual sembako dan kopi, ia mampu membiayai anaknya hingga ke perguruan tinggi dan membeli sebuah sepeda motor untuk operasional warung.
Perubahan serupa dirasakan para pengelana kemudi. Bernadus Bani, seorang sopir travel rute Bajawa-Ende, duduk santai menikmati kopi panasnya di sela-sela antrean pengisian. Baginya, SPBU di pelosok adalah penyelamat waktu dan kewarasan.
“Dulu pikiran kami bercabang. Harus kejar setoran jemput penumpang, tapi di sisi lain takut kehabisan bensin karena antrean di kabupaten sebelah sangat panjang. Sekarang kami berkendara dengan tenang,” kata Bernadus sembari tersenyum.
Aroma rezeki dari tetesan BBM ini juga merembet hingga ke seberang jalan. Di sebuah bangunan mini bertuliskan “Agen Mini ATM Elkana”, Yanti, seorang gadis muda, sibuk melayani warga yang mengantre untuk menyetor dan menarik uang. Peluang emas ini ditangkap keluarganya setelah melihat padatnya arus kendaraan yang singgah di SPBU.
“Ukurannya memang kecil, tapi pemasukannya cukup untuk menabung membangun rumah sehat dalam setahun,” cetus Yanti.
Di balik geliat ekonomi tersebut, ada sosok Andi B.L. Liu yang mengawal denyut nadi energi di sana. Andi adalah Manajer SPBU Aegela. Baginya, tempat ini bukan sekadar tempat pengisian bahan bakar, melainkan tempatnya menyambung hidup setelah dirumahkan dari pekerjaannya sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) Pemkab Nagekeo pada 2019 lalu.
Andi menjelaskan, tempat yang ia pimpin masuk dalam kategori SPBU Kompak, bagian dari program strategis nasional BBM Satu Harga. Dengan skala di bawah reguler, lembaga penyalur ini digerakkan oleh tujuh orang personel lokal: seorang manajer, satu pengawas, satu operator, satu sekuriti, dan tiga karyawan.
Setiap bulan, oase kecil ini menyalurkan sekitar 64 ton Pertalite, 16,4 ton Pertamax, dan 32 ton Solar untuk menghidupi kendaraan di daratan Flores. Namun, menjaga nyala energi di pelosok bukan tanpa hambatan. Pasokan BBM sering kali fluktuatif mengikuti dinamika pengiriman logistik.
“Kebutuhan Pertalite idealnya bisa mencapai 70 ton per bulan. Untuk menyiasatinya agar tidak terjadi kekosongan di akhir bulan, kami memesan dua kali dalam seminggu, bukan setiap hari. Manajemen stok harus ketat,” urai Andi.
Kehadiran SPBU Kompak seperti di Aegela ini menjadi bukti nyata bagaimana pemangkasan disparitas harga energi mampu memotong biaya logistik di tingkat tapak. Ketika energi hadir secara merata dan terjangkau, kemandirian ekonomi lokal bukan lagi sekadar narasi di atas kertas undang-undang, melainkan realitas yang sedang tumbuh subur di pelosok Flores.
Di Simpang Aegela, langkah-langkah kecil warga kini telah berderap lebih cepat, menjemput harapan yang dulunya tak pernah terbayangkan.
Wil – WBN
