Ekspedisi Budaya ke Monumen Sejarah, Jenry Sualang: Nilai Budaya Situs Sejarah Wajib diLestarikan

SULUT,Manado – Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara dan Uptd Taman Budaya melaksanakan jejak ekspedisi budaya situs monumen sejarah di wilayah kotamanado dan sekitarnya terkait informasi dari masyarakat bahwa lokasi situs tersebut sudah tak terawat,maka mendengar informasi tersebut jajaran dinas kebudayaan yang dipimpin Plt.kepala Dinas Kebudayaan Daerah Jenry.M Sualang.SPd,MAP turun kelapangan langsung meninjau ke lokasi Situs Sejarah monumen patung A.A. Maramis, Patung Pendaratan H.V.Worang, Gedung Minahasa Raad.Senin (30/12)

Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut berkomitmen untuk tetap melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung di balik monumen yang dibangun pada generasi masa depan daerah ini.

Kadis Jenry Sualang bersama jajaran mengunjungi Gedung Minahasa Raad 1932 yang terletak di seputaran tugu Zero Point Kota Manado, dimana di dalam gedung ini berdiri dengan megah patung Dr GSSJ Ratulangi.

Diketahui, Gedung Minahasa Raad didirikan di Manado karena (Keresidenan) Manado menjadi pusat perkantoran dan administrasi waktu itu dan berdekatan dengan Benteng Amsterdam.

Pemanfaatan gedung secara penuh nanti terjadi pada tahun 1945-1946, setelah Perang Dunia II berakhir.

Pertama dimanfaatkan oleh Voorlopige Minahasaraad (semacam DPR Minahasa Sementara) semasa NICA, kemudian dilanjutkan oleh Dewan Minahasa pasca pengakuan kedaulatan RI tahun 1949.

Saat perjuangan Permesta tahun 1958-1961, pemanfaatan gedung kurang maksimal karena beberapa anggotanya ikut terlibat dalam aksi Permesta.

Selain itu, Kadis Kebudayaan Jenry Sualang bersama jajaran menuju monumen Pendaratan HV Worang yang terletak di Pusat Kota 45.

Diketahui, monumen ini merupakan tugu peringatan pendaratan Batalyon Worang pada bulan Mei 1950 dengan misi untuk mencegah Sulawesi Utara bergabung dengan Negara Indonesia Timur (NIT) dan pengaruh NICA.

Masa itu, pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, kondisi Indonesia Timur masih bergejolak.

Banyak muncul pemberontakan lokal yang tak setuju dengan kebijakan pusat. Apalagi saat itu, pasukan KNIL masih menguasai kawasan Indonesia Timur.

Batalyon Worang merupakan pasukan di bawah Markas Besar Angkatan Darat, yang bernama Batalyon B pada Brigade 16 TNI AD.

Pasukan ini lebih dikenal dengan nama Batalyon Worang karena dipimpin Mayor Hein Victor Worang dengan tugas ke beberapa daerah di Indonesia Timur seperti Manado, Makassar dan Maluku Selatan untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan RI dari gerakan separatis.

Usai dari monumen  Batalyon Worang, Kadis Kebudayaan Jenry Sualang dan jajaran berkunjung ke Monumen Pahlawan Nasional AA Maramis.

Diketahui, Alexander Andries Maramis (AA Maramis) lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Juni 1897. Ia merupakan putra dari pasangan Andries Alexander Maramis dan Charlotte Ticoalu.

AA Maramis menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS) di Manado. Ia kemudian masuk sekolah menengah (Hogere burgerschool, HBS) di Batavia.

Pada tahun 1919, Maramis berangkat ke Belanda untuk belajar hukum di Universitas Leiden. Selama di Leiden, ia terlibat dalam organisasi mahasiswa Perhimpunan Indonesia.

Pada tahun 1924, Maramis lulus dari Universitas Leiden dan menyandang gelar Meester in de Rechten (Mr.). Setelah lulus, ia kembali ke Indonesia dan membuka praktik hukum di Batavia dan Palembang.

Pada 1 Maret 1945, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk. Maramis pun diangkat menjadi salah satu anggota.

Dalam badan ini, Maramis termasuk dalam Panitia Sembilan yang ditugaskan untuk merumuskan dasar negara yang berdasarkan nilai utama dan prinsip ideologi Pancasila.

Rumusan ini kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Maramis pun menjadi salah satu orang yang menandatangani Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, bersama 8 anggota Panitia Sembilan lainnya.

Pada 11 Juli 1945, Maramis ditunjuk sebagai anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang ditugaskan untuk membuat perubahan tertentu sebelum disetujui oleh anggota BPUPKI.

Pada 26 September 1945, AA Maramis diangkat sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Indonesia pertama. Ia menggantikan posisi Samsi Sastrawidagda yang mengundurkan diri setelah dua minggu menjabat karena alasan kesehatan.

Sebagai Menteri Keuangan, Maramis berperan penting dalam percetakan uang kertas Indonesia pertama yang disebut Oeang Republik Indonesia (ORI).

Maramis beberapa kali menempati posisi sebagai Menteri Keuangan di beberapa kabinet berikutnya. Seperti Kabinet Amir Sjarifudin I (3 Juli 1947), Kabinet Amir Sjarifudin II (12 November 1947) dan Kabinet Hatta I (29 Januari 1948).

Saat Agresi Militer Belanda II yang dimulai pada Desember 1948, Sjafrudin Prawiranegara mampu membentuk Pemerintah Darurat dan Kabinet Darurat. Dalam Kabinet Darurat ini, Maramis ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri dan menjabat hingga 13 Juli 1949.

Setelah itu, ia kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Hatta II hingga 4 Agustus 1949. Karena perannya yang sangat besar selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, nama AA Maramis diabadikan sebagai nama Gedung Induk Kementerian Keuangan.

Sepanjang tahun 1950 hingga 1960, Maramis sempat menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk empat negara yaitu Filipina, Jerman Barat, Uni Soviet, dan Finlandia.

Itulah sejumlah kegiatan yang dilakukan Kadis Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut Jenry Sualang bersama jajaran saat mengisi hari libur.

Penulis : Tevri Ngantung |™red ndra