MEDIA WBN|EKA PATA, SUMBA TENGAH — Langit sore di Eka Pata tampak muram ketika ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Pulau Sumba memadati lokasi pemakaman almarhum Drs. Umbu Djima, Kamis (21/5/2026). Tangis keluarga pecah di antara lantunan doa dan penghormatan adat yang mengiringi perjalanan terakhir seorang tokoh besar yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri bagi rakyat, tanah kelahirannya, dan bangsa Indonesia.
Di tengah suasana duka yang begitu dalam, hadir pula Bupati Ratu Bonu Wulla bersama jajaran kepala daerah se-Pulau Sumba. Kehadiran para pemimpin daerah tersebut bukan sekadar formalitas kenegaraan, melainkan simbol penghormatan terakhir kepada seorang negarawan daerah yang pernah menjadi wajah kepemimpinan Sumba di masa-masa penting pembangunan Nusa Tenggara Timur.
Bagi masyarakat Sumba, nama Drs. Umbu Djima bukan sekadar catatan dalam arsip pemerintahan. Ia adalah bagian dari sejarah panjang tentang keteguhan, kesederhanaan, dan pengabdian. Sosoknya dikenang sebagai pemimpin yang hadir bukan hanya di kantor pemerintahan, tetapi juga di tengah rakyat kecil — mendengar, berjalan bersama, dan memperjuangkan banyak hal ketika Sumba masih menghadapi keterisolasian, keterbatasan infrastruktur, serta minimnya perhatian pembangunan dari pusat.
Sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sumba Barat selama dua periode, 1985–1990 dan 1990–1995, Umbu Djima memimpin pada era yang tidak mudah. Saat itu, akses jalan antarwilayah masih terbatas, pelayanan publik belum merata, dan sebagian besar masyarakat hidup dalam keterbatasan ekonomi. Namun di tengah berbagai kekurangan tersebut, ia dikenal memiliki visi besar tentang masa depan Sumba.
Lanjutkan kehalaman berikutnya dibawah ini!…
