NTT, WBN — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempercepat koordinasi dengan pemerintah pusat untuk menangani dampak gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Sebelumnya diberitakan, hingga Sabtu (15/8/2026), pemutakhiran data sementara mencatat 33 orang meninggal dunia dan 23 orang lainnya luka-luka. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan laporan tersebut dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT.
Rapat yang digelar secara daring pada Sabtu sore ini dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno. Rapat darurat ini melibatkan lintas kementerian dan lembaga. Di antaranya Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, BNPB, Basarnas, BMKG, TNI-Polri, serta jajaran kepala daerah se-daratan Flores.
Berdasarkan data sementara dari lokasi bencana, korban meninggal dunia tersebar di beberapa kabupaten. Rinciannya meliputi 14 orang di Manggarai, 14 orang di Manggarai Timur, 3 orang di Sikka, 1 orang di Nagekeo, dan 1 orang di Manggarai Barat.Sementara itu, dari 23 korban luka-luka, sebanyak 13 orang berada di Ende, 6 orang di Sikka, dan 4 orang di Manggarai.
Selain korban jiwa, gempa juga dilaporkan merusak sejumlah fasilitas publik dan infrastruktur vital di daratan Flores.
“Data ini masih bersifat sementara. Tim di lapangan masih terus melakukan proses pencarian, evakuasi, serta pendataan lebih lanjut,” ujar Melkiades.
Prioritas Logistik
Gubernur Melkiades menambahkan, Pemprov NTT terus membangun komunikasi intensif dengan para bupati dan wakil bupati di Flores untuk mempercepat pendataan dan memastikan penanganan awal berjalan cepat. Penyelamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi menjadi prioritas utama saat ini.
Pemerintah daerah kini fokus mendistribusikan kebutuhan tempat tinggal sementara, seperti tenda dan selimut, bagi warga yang rumahnya rusak atau tidak aman untuk ditempati. Untuk mengantisipasi keterlambatan logistik, Pemprov NTT mengambil langkah taktis dengan menggandeng pelaku usaha makanan dan minuman lokal di Flores guna memasok kebutuhan pangan darurat secara cepat.
“Kami meminta para pelaku usaha tidak ragu memasok bantuan terlebih dahulu. Prioritas kita adalah memastikan tidak ada warga terdampak yang kekurangan makanan dan minuman,” kata Melkiades.
Seluruh biaya logistik darurat dari pelaku usaha tersebut nantinya akan dihitung dan ditanggung bersama melalui anggaran pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, serta dukungan dana siap pakai dari pemerintah pusat. Langkah gotong royong ini diambil agar penanganan di lapangan tidak terhambat birokrasi penyerahan bantuan pusat.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemprov NTT berharap kementerian terkait dapat segera memberikan dukungan penuh, terutama untuk memulihkan akses transportasi dan layanan dasar yang lumpuh akibat gempa.
WBN
