Minim Layanan Informasi Resmi : Panik, Ratusan Warga Mbay Mengungsi ke Perbukitan

MBAY, WBN — Ratusan warga Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), berbondong-bondong mengungsi ke wilayah perbukitan sejak Minggu (16/8/2026) sore hingga malam hari.

Langkah ini diambil menyusul merebaknya isu mengenai ancaman tsunami yang memicu kepanikan massal di tengah rentetan gempa susulan.

Sebelumnya, sejumlah kabupaten di daratan Pulau Flores termasuk warga Mbay diguncang gempa tektonik utama bermagnitudo 7,7. Meski intensitas gempa susulan terus mengecil, ketiadaan informasi dan mitigasi yang jelas dari pemerintah daerah maupun pusat memicu lahirnya berbagai spekulasi dan rumor yang meresahkan di tengah masyarakat.

Stepianus Redo, warga Kelurahan Danga, menuturkan bahwa keluarganya sempat mengalami kepanikan hebat akibat kabar burung tersebut. Ia mengaku sangat kesulitan saat harus mengevakuasi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia dalam situasi genting.

“Kami sangat membutuhkan pengumuman resmi dari pemerintah, misalnya melalui siaran keliling atau media massa, agar masyarakat tidak tersesat oleh informasi liar. Kepanikan di jalan raya justru berisiko memicu kecelakaan baru,” ujar Stepianus, Minggu malam.

Selain kepastian informasi, warga juga mengeluhkan pola pendistribusian logistik darurat yang dinilai belum merata.

Stepianus menyarankan agar penyaluran bantuan makanan dan dokumen logistik dilakukan melalui ketua RT atau posko terdekat agar lebih tepat sasaran.

Senada dengan itu, Nano, seorang tokoh pemuda setempat, menyayangkan lambatnya respons otoritas terkait dalam mengantisipasi dampak psikologis warga pascabencana. Menurutnya, kelompok masyarakat rentan dan warga yang tidak memiliki akses internet menjadi pihak yang paling dirugikan oleh kesimpangsiuran informasi ini.

“Pemerintah seharusnya hadir secara berkala memberikan pemutakhiran data, baik mengenai potensi gempa, tsunami, maupun skema bantuan. Sangat memprihatinkan melihat warga yang minim akses digital terombang-ambing oleh informasi yang menyesatkan,” kata pria yang akrab disapa Nano ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi atau panduan tanggap darurat yang disampaikan secara langsung oleh pemerintah daerah setempat kepada warga terdampak.

Sementara itu, bantuan yang diterima warga sejauh ini baru berupa satu kilogram beras dan tiga butir telur per keluarga, sedangkan pasokan air minum bersih dilaporkan belum menjangkau seluruh korban di beberapa desa dan kecamatan tetangga.

WBN – Will

 

 

Share It.....