NGADA, WBN β Sebanyak 704 siswa Seminari Santo Brakhmans Todabelu Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa mengungsi di tenda darurat.
Langkah ini diambil pasca-gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus lalu.Para siswa tingkat SMP dan SMA tersebut kini bertahan di kompleks tenda yang didirikan di lapangan sepak bola seminari.
Pantauan WBN, Sabtu (22/8/2026), mereka mengungsi bersama 12 pastor pembina, 5 frater, 1 bruder, 2 suster biarawati, serta 21 karyawan lembaga pendidikan tersebut.
Preses Seminari Mataloko, Romo Stef Wolo, memastikan bahwa kondisi seluruh penghuni seminari saat ini dalam keadaan aman dan terkendali. Ia mengonfirmasi adanya beberapa siswa yang sempat mengalami luka ringan karena panik saat gempa utama terjadi. Namun, seluruh korban luka telah mendapatkan perawatan medis dan dinyatakan pulih.
“Secara umum kondisi aman. Anak-anak juga menunjukkan resiliensi yang tinggi. Mereka cepat beradaptasi dengan situasi darurat ini dan perlahan bangkit dari trauma psikologis akibat guncangan gempa,” ujar Romo Stef.
Meski aktivitas dialihkan ke posko pengungsian, gedung-gedung historis Seminari Mataloko dilaporkan tetap berdiri kokoh. Bangunan hanya mengalami kerusakan minor di beberapa titik struktur dan dinilai aman dari risiko keruntuhan.
Ketangguhan para calon pastor dan seluruh staf di tengah keterbatasan fasilitas ini menjadi simbol harapan dalam masa pemulihan pasca-gempa Flores.
WBN
