Solidaritas dari Perbatasan, Kabupaten Belu Salurkan Rp 510 Juta untuk Korban Gempa Flores

NTT, WBN — Pemerintah Kabupaten Belu menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai total Rp 510 juta serta tiga kloter bahan pokok untuk membantu warga terdampak gempa bumi di enam kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Aksi ini menjadi simbol kuatnya solidaritas antardaerah dari wilayah perbatasan RI-Timor Leste untuk meringankan beban korban bencana.

Bantuan dana tersebut dibagi untuk enam wilayah terdampak, dengan rincian Kabupaten Manggarai sebesar Rp 100 juta, Manggarai Timur Rp 100 juta, Nagekeo Rp 100 juta, Manggarai Barat Rp 80 juta, Ngada Rp 80 juta, dan Kabupaten Sikka Rp 50 juta.

Bupati Belu Willybrodus Lay saat menyerahkan bantuan di Kantor Bupati Manggarai Barat, Senin (7/9/2026), menjelaskan bahwa anggaran bantuan ini bersumber dari pos Belanja Tidak Terduga (BTT) serta hasil donasi aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat Kabupaten Belu.

“Apa yang kami bawa mungkin tidak sebanding dengan kerusakan yang ada di sini. Namun, ini adalah wujud kepedulian tulus dari kami, masyarakat Belu di perbatasan, agar saudara-saudara di Flores tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi ujian ini,” ujar Willybrodus.

Bantuan ini disambut baik oleh para kepala daerah di Flores. Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi dan Bupati Manggarai Timur Agas Andreas sepakat bahwa kehadiran dukungan ini menegaskan kuatnya rasa persaudaraan dan semangat gotong royong antardaerah di NTT.

Kondisi di Lapangan

Hingga saat ini, dampak gempa bumi masih sangat dirasakan oleh masyarakat Flores. Di Kabupaten Manggarai, Bupati Herybertus G. L. Nabit melaporkan sebanyak 55 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Sebagian besar warga yang selamat juga masih harus bertahan di tenda-tenda pengungsian, baik posko terpadu maupun kediaman mandiri.

Kerusakan infrastruktur dan rumah tinggal dilaporkan cukup masif. Di salah satu kecamatan di Manggarai, aktivitas roda pemerintahan bahkan sempat terkendala. Sektor pendidikan pun belum sepenuhnya pulih; meski kegiatan belajar mengajar sudah dimulai kembali, sebagian siswa terpaksa belajar di dalam tenda darurat karena bangunan sekolah rusak.

“Kondisi ini memicu trauma mendalam, terutama bagi anak-anak. Kehadiran dan dukungan dari masyarakat Belu memberikan kekuatan moral yang besar bagi kami untuk bangkit,” kata Herybertus di Posko Bencana Kabupaten Manggarai.

Proses pemulihan pascabencana di enam kabupaten di Pulau Flores kini terus berjalan secara bertahap, dengan prioritas pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi dan rehabilitasi fasilitas publik.

WBN

Share It.....