NGADA, WBN — Sejumlah warga Desa Turamuri, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, melayangkan sanggahan keras terkait data kerusakan akibat gempa bumi yang pasalnya dirilis tim relawan.
Data yang dipublikasikan di kantor desa setempat dinilai tidak akurat dan tidak menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Keberatan tersebut disampaikan warga dalam Forum Uji Publik Data Gempa yang berlangsung di Kantor Desa Turamuri, Kamis (17/9/2026). Warga menilai petugas pendataan awal tidak objektif dan gagal memperbarui kondisi terbaru pascabencana.
Menurut warga, terdapat kekeliruan klasifikasi yang masif. Sejumlah rumah yang mengalami kerusakan berat justru dimasukkan ke dalam kategori rusak sedang. Sebaliknya, bangunan berkerusakan sedang dikategorikan sebagai rusak ringan.
Yohanes Keli, warga Kampung Tukapela, Desa Turamuri, mengungkapkan kekecewaannya. Ia mencontohkan rumah miliknya yang runtuh pada beberapa sisi hingga ke bagian fondasi akibat gempa utama dan rangkaian gempa susulan.
Demi keselamatan anak-anak, ia terpaksa merobohkan sisa dinding yang sudah goyang.
“Namun, rumah yang kini sudah rata dengan tanah itu malah didata sebagai rusak sedang. Ini tidak adil. Kami protes dan meminta data ini segera diperbaiki,” ujar Yohanes saat ditemui, Jumat (18/9/2026).
Keluhan senada disampaikan Yoseph Hewe Keno. Ia menyayangkan metode survei petugas yang dinilai sekadar formalitas. Petugas disebut hanya mengambil foto dari luar bangunan tanpa memeriksa kerusakan struktur bagian dalam atau area belakang rumah.
“Kamar mandi kami roboh, tetapi tidak difoto. Hasilnya ditulis rusak sedang. Padahal rumah utama ini sudah tidak aman untuk ditinggali karena rawan ambruk. Kami mau naik ke atap rumah untuk buka selamatkan seng tetapi takut rumah ini rubuh. Tembok rumah rusak bolong, yang lainnya goyang, tinggal menunggu kapan jatuh ambruk, tapi dalam data bilang kerusakan sedang. Kami berharap pemerintah mengevaluasi data yang dilaporkan awal dari tim di lapangan,” kata Yoseph.
Desakan Evaluasi Total
Kritik terhadap validitas data ini juga disuarakan oleh Thomas Djawa, salah satu tokoh setempat. Ia menegaskan bahwa laporan pendataan awal tidak bisa dipaksakan menjadi data final, terlebih karena pendataan dilakukan saat gempa susulan masih terus terjadi.
Thomas mencontohkan bagian belakang rumahnya yang runtuh dan mengalami pergeseran tanah. Meski tampak luar seperti rusak sedang, bangunan tersebut secara struktur sudah rapuh dan tidak layak huni.
“Kami mendesak adanya evaluasi total terhadap data kerusakan ini. Pemerintah harus menyamakan persepsi pemetaan kerusakan secara jujur agar tidak memicu konflik baru di tengah masyarakat. Data ini harus diubah,” tegas Thomas.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala Desa Turamuri belum membuahkan hasil. Saat mendatangi kediamannya, pihak keluarga menyatakan bahwa kepala desa sedang berada di Kantor Camat Bajawa Utara untuk urusan dinas.
Warga berharap pemerintah daerah dan tingkat pusat bersedia mendengarkan aspirasi dari bawah agar bantuan stimulasi perbaikan rumah nantinya bisa tepat sasaran.
Sebelumnya, Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu kepada wartawan menginformasikan pemerintah daerah terus melakukan penyesuaian data terdampak di seluruh wilayah Ngada agar lebih tepat.dan akurat.

WBN
