Budayawan Indonesia Yang Berada di Belanda Mengecam Keras Dugaan Pelecehan Situs Karang Kamulyan

 

 

WBN, BELANDA– Melihat postingan yang viral belum lama ini, penginjakan batu peribadatan di situs karang kamulyan. Budayawan asal indonesia yang tinggal di belanda Kania Sukma Soeradjibdja merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh sekelompok orang. Dia merasa heran dan miris. Dalam Pesan singkatnya kepada tim media Warisan Budaya Nusantara. (07/10).

pertama kalau mereka di bilang kurang paham tentang budaya itu tidak mungkin menurutnya, karena jika dilihat jejak pendidikan mereka adalah orang orang yang berpendidikan tinggi. Malah salah satu nya adalah seorang dosen dan nota bene seorang dosen sastra sunda di salah satu perguruan tinggi yang ada di indonesia.

Menurut nya apa yang terlihat adalah kurang nya penghormatan atas situs itu sendiri, jika saja sampai tidak tahu menghormati dan adab terhadap leluhur sendiri, bagaimana kita bisa mempertahankan jati diri kita sebagai bangsa sendiri

Selain itu pula Kania Sukma Soeradjibdja mengatakan bahwa yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain adalah Budaya yang sangat kental yang ada di indonesia tercinta ini, itulah jati diri bangsa yang harus dipertahankan dan harus kita hormati bersama, setidaknya ada penghormatan besar kita pada leluhur pendahulu kita, tanpa mereka kita tidak ada. Tuturnya.

Kania Sukma soeradibdja selain seorang Budayawan Indonesia yang berada di Belanda dia juga menjabat sebagai DPLN Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Belanda dengan menjabat sebagai Wakil Sekretaris Bidang Programa menyayangkan sekali dengan terjadi di Situs Karang Kamulyan. Pertama merasa miris dengan apa yang terjadi dengan kejadian seperti ini. Kedua banyak fenomena sekarang ini orang orang banyak mengenal Alloh SWT. Tapi sayang mereka tidak belajar adab dan menghormati leluhur nya sendiri . Menurut nya menjaga dan melestarikan Budaya Leluhur adalah hal yang mutlak untuk semua bangsa karena itulah jadi diri Bangsa Indonesia.

Menurutnya apa yang dilakukan oleh Dosen tersebut kalau di bilang tidak paham itu hanyalah alasan belaka. Bayangkan seorang yang melakukan hal seperti itu, nanti nya mau di bawa kemana anak didiknyam jika dia sendiri memberikan contoh yang tidak baik dan tidak layak untuk ditiru. Tuturnya.

Iwan hendriawan, S. Ip | redpel ndra