NAGEKEO, WBN — Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat kritik tajam dari warga terkait lambannya penanganan pasca-gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Warga menilai respons pemerintah daerah setempat tidak secepat saat menarik pajak dari masyarakat.
Pantauan di sejumlah media sosial dan grup percakapan digital pada Senin (17/8/2026) menunjukkan gelombang protes dari warga lokal maupun diaspora Nagekeo. Mereka menyayangkan ketiadaan perhatian nyata bagi para korban yang rumahnya rusak akibat bencana.
Warga juga membagikan foto-foto kondisi lapangan yang memperlihatkan sejumlah pengungsi masih telantar dan belum menerima bantuan logistik.
“Kalau menagih pajak petugas datang langsung ke rumah warga, tetapi saat ada bencana, warga justru diminta mengambil bantuan sendiri ke posko. Di mana logikanya?” ujar salah satu warga dalam grup percakapan Nagekeo Mandiri, Senin.
Dimana Pemda Nagekeo saat warga membutuhkan mereka bertindak cepat ?, ungkap warga.
Kritik lain juga menyoroti lemahnya koordinasi Pemkab Nagekeo dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi NTT. Dampaknya, penyaluran bantuan dan kunjungan pejabat dinilai lebih terfokus ke kabupaten lain di Flores yang juga terdampak gempa.
“Pemerintah daerah seperti vakum dan tidak merespons sama sekali. Kasihan melihat kondisi rumah kami yang sudah porak-poranda,” tulis warga .
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Nagekeo terkait keluhan dan kritik yang dilayangkan oleh masyarakat tersebut.
WBN
