Menuju Konferwil V, Ikhtiar LMND Merajut Gerakan Mahasiswa dari Tapal Batas RI-Timor Leste

KEFAMENANU, WBN — Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW LMND) Nusa Tenggara Timur bersiap menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) V di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Forum tertinggi tingkat regional yang dijadwalkan berlangsung pada 10-12 Oktober 2026 ini membawa misi reposisi gerakan mahasiswa agar lebih peka terhadap isu-isu riil di wilayah pinggiran dan perbatasan negara.

Pemilihan Kefamenanu yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Timor Leste diakui bukan sekadar persoalan teknis lokasi. Wilayah ini dipilih sebagai simbol penegasan bahwa basis pemikiran dan advokasi mahasiswa harus bergeser dari dinamika perkotaan menuju realitas masyarakat pelosok.

Ketua EW LMND NTT, Gunawan, menyatakan bahwa tantangan terbesar gerakan mahasiswa kontemporer adalah memudarnya koneksi dengan realitas sosial. Oleh karena itu, Konferwil V dirancang sebagai ruang otokritik dan evaluasi struktural, bukan sekadar suksesi kepemimpinan seremonial.

“Kami ingin mempertegas kembali arah ideologi dan politik organisasi. Hasil dari forum ini harus mewujud pada kerja nyata, mulai dari pendidikan kader yang kritis hingga pengorganisasian masyarakat di akar rumput,” ujar Gunawan, Kefamenanu, Rabu (23/9/2026).

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris EW LMND NTT, Pirlo Luron, menekankan bahwa wilayah perbatasan menyimpan kompleksitas masalah yang kerap luput dari perhatian pusat. Isu-isu seperti ketimpangan akses pendidikan, kualitas lapangan kerja, hingga ekonomi kerakyatan di beranda depan Indonesia menjadi pekerjaan rumah yang harus dibaca secara jeli oleh gerakan mahasiswa.

“Menempatkan forum ini di TTU membawa pesan politik bahwa persoalan perbatasan adalah potret utuh NTT. Mahasiswa tidak boleh asing dengan tanahnya sendiri,” kata Pirlo.

Selain membahas isu makro regional, Konferwil V juga akan menyoroti pembenahan internal organisasi. LMND NTT menilai, masifnya pertumbuhan kuantitas anggota mahasiswa saat ini tidak akan berdampak signifikan tanpa diimbangi oleh kedalaman metodologi berpikir.

Gunawan menambahkan, model pendidikan kader ke depan akan diorientasikan pada kemampuan menghubungkan teori akademik dengan kebutuhan advokasi warga. Mahasiswa dituntut mampu merumuskan kajian yang aplikatif berbasis data lapangan.

Bersamaan dengan persiapan forum, panitia juga meluncurkan logo resmi Konferwil V. Secara visual, logo tersebut mengombinasikan simbol pergerakan, seperti gerigi dan kepalan tangan dengan elemen kultural khas NTT, seperti alat musik sasando dan Danau Kelimutu, sebagai penanda komitmen gerakan yang tidak tercerabut dari identitas budaya lokal.

WBN

Share It.....