Menembus Keterbatasan : Kisah Nisa, Atlet Lari Ngada yang Menggapai Mimpi Anestesiologi di Negeri Tirai Bambu
Maria Ludmila Deri (21)

NGADA, WBN — Di saat sebagian besar remaja seusianya menghabiskan waktu berselancar di jagat maya, Maria Ludmila Deri (21) memilih jalan yang berbeda.

Gadis kelahiran 16 September 2005 asal Turekisa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini justru menguras keringatnya di lintasan lari.

Langkah kaki yang konsisten itu kini membawanya terbang jauh melintasi benua untuk menimba ilmu di Negeri Tirai Bambu, China. Nisa, sapaan akrabnya, adalah potret nyata dari kegigihan generasi muda NTT.

Perjalanan akademiknya bermula dari SDK Turekisa, berlanjut ke SMPN 2 Bajawa, hingga akhirnya ia menembus SMAN Keberbakatan Olahraga (SKO) Kupang.

Sejak bangku sekolah dasar, ia telah mematok komitmen tinggi pada dirinya sendiri, yakni menolak membuang waktu secara sia-sia. Saat media sosial mulai mencandu generasi muda, Nisa justru memilih memacu fisiknya di cabang olahraga lari.

Pilihan itu berbuah manis. Lewat olahraga, ia tidak hanya mengukir prestasi kecil di tingkat lokal, tetapi juga sukses mengharumkan nama Kabupaten Ngada di kancah yang lebih tinggi saat menempuh pendidikan di SKO Kupang.

“Sambil mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah, saya ingin bersaing di jalur prestasi lain. Itulah mengapa saya menekuni olahraga lari. Puji Tuhan, sejak saat itu saya mulai dipilih mengikuti berbagai perlombaan tingkat lokal. Saya merasakan dampak positif dari berprestasi. Saya akhirnya ketagihan untuk terus mengembangkan bakat,” kenang Nisa dengan mata berbinar, Jumat (25/9/2026) di Bajawa kepada Media WBN.

Bagi Nisa, kesibukan di dunia atlet menjadi perisai ampuh yang membentenginya dari dampak negatif pergaulan bebas, hura-hura, dan jebakan ponsel pintar. Ia menolak tenggelam dalam arus zaman tanpa kendali.

Nisa sadar, ia harus memiliki pembeda untuk merajut masa depan yang cerah.

Melawan Arus dan Belajar Bahasa Mandarin

Ketangguhan mental Nisa kembali diuji usai menamatkan bangku SMA. Ketika rekan-rekan sejawatnya berbondong-bondong mendaftar ke perguruan tinggi dalam negeri, Nisa memilih menempuh jalur sunyi.

Ia memutuskan untuk menunda kuliah demi mengejar mimpi yang lebih besar: menembus beasiswa khusus ke China.

Untuk mewujudkannya, ia merantau ke Surabaya demi mengikuti kursus Bahasa Mandarin. Langkah ini sempat dipandang skeptis oleh teman-temannya yang menganggap bahasa tersebut terlalu rumit. Namun, Nisa pantang surut selangkah pun.

“Saya tidak ingin hanya mengandalkan orangtua. Sebagai anak, saya harus memiliki sesuatu yang bisa diandalkan untuk bisa maju dan berkembang. Puji Tuhan, modal bahasa Mandarin itu akhirnya membukakan jalan. Saya dinyatakan lolos program kuliah Strata-1 (S-1) jurusan Anestesiologi yang dibiayai penuh oleh Pemerintah China,” tuturnya haru.

Hadirnya Pemerintah Daerah di Saat Kritis

Kendati tiket beasiswa penuh telah di tangan, Nisa sempat terantuk tembok besar. Ia dan keluarganya kesulitan finansial untuk membiayai seluruh administrasi awal dan dokumen perjalanan ke China.

Pada titik kritis inilah, negara hadir melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada. Melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Pemda Ngada bergerak cepat memberikan bantuan pendanaan sosial pendidikan untuk memastikan keberangkatan sang atlet tidak terganjal biaya logistik awal.

“Di tengah kesulitan yang kami hadapi, saya dan keluarga besar menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada, khususnya Bapak Bupati dan Wakil Bupati. Perhatian nyata ini membuat saya bisa meneruskan perjuangan ke China. Terima kasih Ngada,” ucap Nisa lirih menahan keharuan.

Mimpi besar kini membentang di hadapan Nisa. Namun, ia tidak lupa pada bumi yang mengasuhnya. Nisa bertekad, setelah menyelesaikan studi keperawatan anestesiologi di China, ia akan kembali ke kampung halaman.

Ia ingin mendedikasikan ilmu dan raganya demi melayani masyarakat Kabupaten Ngada tercinta.

WBN

 

Share It.....