Sentuhan Pokir DPRD Ngada Bosko Ponong Menjawab Kerinduan Akses Petani Benteng Tawa
Anggota DPRD Ngada, Yohanes Don Bosko Ponong, S.Pd

NGADA, WBN — Sektor pertanian di wilayah Riung Barat, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, bersiap memasuki babak baru. Isolasi lahan komoditas produktif yang selama bertahun-tahun membebani ongkos produksi petani, kini mulai terurai menyusul dibukanya akses jalan tani baru yang menghubungkan jalur Sobokmbea, Lenggar, hingga Mbazang.

Pembukaan jalur sepanjang 3 kilometer di Desa Benteng Tawa 4 ini dimulai pada Senin (28/9/2026). Langkah ini diawali dengan prosesi ritual adat setempat di titik nol pengerjaan, sebagai simbol restu leluhur dan penyelarasan alam agar pembangunan infrastruktur berjalan tanpa hambatan.

Anggota DPRD Kabupaten Ngada dari Daerah Pemilihan Ngada 4, Yohanes Don Bosko Ponong, menyatakan bahwa proyek ini merupakan realisasi langsung dari aspirasi masyarakat yang disalurkan melalui Dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) legislatif.

“Jalan tani ini adalah jawaban atas kerinduan panjang masyarakat. Potensi pertanian di sini luar biasa, namun selama ini terkendala akses angkut menuju pasar. Ruas jalan sepanjang 3 kilometer ini diharapkan memotong rantai distribusi yang mahal,” ujar Bosko, yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Amanat Demokrat DPRD Ngada.

Bosko menambahkan, pengerjaan fisik akan berjalan mulus berkat tingginya partisipasi publik. Para pemilik lahan di sepanjang jalur Sobokmbea-Lenggar-Mbazang secara sukarela menyetujui pembukaan jalan tani baru sepanjang 3 km demi kepentingan umum tanpa konflik agraria.

Sentra Komoditas Baru

Kawasan Benteng Tawa selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah subur di Ngada yang menghasilkan berbagai tanaman perkebunan bernilai tinggi, seperti kemiri, cengkeh, pala, porang, hingga vanili. Sayangnya, minimnya infrastruktur membuat hasil bumi terancam rusak sebelum sampai ke pasar kota.

Hubertus Lodo, salah satu tokoh masyarakat Desa Benteng Tawa, mengungkapkan rasa leganya atas dimulainya proyek ini.

Bagi warga, jalan baru ini bukan sekadar jalur lintasan kendaraan, melainkan urat nadi perekonomian.

“Hasil pertanian kami melimpah, tetapi membawa keluar dari lahan adalah perjuangan berat. Dengan adanya jalan ini, nilai tawar komoditas kami pasti membaik,” kata Hubertus.

Selain memacu produktivitas sektor agraria, pembukaan jalur baru yang melintasi Sobokmbea, Lenggar, Wirong, Wolofaze, hingga Pigang ini juga dirancang untuk jangka panjang.

Berbagai pihak termasuk pemerintah, wakil rakyat dan warga memproyeksikan kawasan strategis ini sebagai area perluasan permukiman baru yang lebih tertata dan ramah akses di masa depan.

“Sinergi antara pokok pikiran legislatif, dukungan eksekutif melalui dinas terkait, serta kerelaan masyarakat adat menjadi modal sosial penting bagi Ngada untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur pinggiran”, pungkas Anggota DPRD Ngada, Bosko Ponong kepada wartawan.

Kepada wartawan, warga setempat menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada berbagai pihak atas jawaban aspirasi mereka, diantaranya Bupati, Wakil Bupati, Lembaga Dewan, Anggota DPRD Wakil Riung raya, Perutusan Yohanes Don Bosko Ponong, Dinas theknis serta pihak rekanan yang mengerjakan proyek jalan baru di wilayah mereka.

WBN

Share It.....