YAHUKIMO – Aksi kekejaman kembali mengguncang Tanah Papua setelah kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengeksekusi mati sepasang suami istri dan seorang warga sipil lainnya secara sadis di pinggir jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Peristiwa memilukan yang terjadi pada Senin, 20 Juli 2026 ini terekam dalam video amatir yang viral, memicu gelombang kecaman luas atas pelanggaran kemanusiaan berat terhadap masyarakat sipil.
Rangkuman kronologi tragedi berdarah, penghadangan di ruas jalan Trans Papua. Peristiwa bermula ketika sepasang suami istri, yang diidentifikasi bernama Yantinus Kogoya beserta istrinya, sedang melintasi area Jalan Trans Papua di Distrik Seradala.
Di tengah perjalanan, langkah mereka mendadak dihentikan secara paksa oleh kelompok bersenjata OPM pimpinan Kopitua Heluka (Danops Kodap XVI Yahukimo) yang sedang melakukan penyisiran jalan.
Dipaksa duduk di pinggir jalan. Berdasarkan rekaman video yang beredar luas, suasana mendadak mencekam saat pasutri yang tidak berdaya tersebut dikepung oleh sekitar tujuh anggota OPM bersenjata api laras panjang dan panah.
Korban kemudian diperintahkan untuk duduk bersila di pinggir jalan dengan posisi membelakangi para pelaku. Dalam kondisi ketakutan luar biasa, korban sempat memohon ampun agar nyawa mereka diampuni, namun permohonan tersebut sama sekali tidak dihiraukan.

Dituduh Mata-Mata Banpol Intelijen
Pihak Komnas TPNPB-OPM melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, serta pimpinan lapangan kelompok tersebut secara sepihak menuduh pasutri ini sebagai Banpol (Bantuan Polisi) dan agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang bertugas memata-matai pergerakan mereka.
Tuduhan tak berdasar ini dijadikan legitimasi oleh OPM untuk melakukan eksekusi di tempat. Salah satu anggota OPM melepaskan tembakan jarak dekat beruntun tepat ke arah bagian kepala korban secara bergantian. Pasangan suami istri tersebut langsung tersungkur bersimbah darah di tepi jalan dan meninggal dunia seketika di lokasi kejadian.
Kelompok OPM kemudian membentangkan bendera Bintang Kejora di dekat jasad korban sebelum melarikan diri ke dalam hutan.
Markas Besar TNI melalui Komando Operasi (Koops) TNI Habema membantah keras tuduhan OPM. Kapen Koops TNI Habema, Letkol (Inf) M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa para korban murni masyarakat sipil biasa yang sehari-hari bekerja sebagai pendulang emas lokal di wilayah tersebut.
TNI menegaskan bahwa tuduhan intelijen tersebut hanyalah propaganda keji OPM untuk membenarkan pembunuhan terhadap warga asli Papua.
Evakuasi Jenazah Diwarnai Kontak Tembak
Duka semakin mendalam ketika proses evakuasi jenazah pasutri ini oleh tim gabungan TNI-Polri pada Kamis, 23 Juli 2026, sempat diadang dan dihujani tembakan oleh kelompok OPM.
Kendati demikian, aparat berhasil mengevakuasi jasad Kumis Kogoya dan istrinya ke RSUD Dekai untuk diserahkan kepada pihak keluarga agar dapat dimakamkan secara layak.
Pasukan TNI-Polri terus melakukan pengejaran intensif terhadap kelompok Kopitua Heluka guna mempertanggungjawabkan tindakan biadab mereka di muka hukum.
WBN
