Anakku manusia,
Sudah berapa lama aku ingin menulis surat ini. Tapi tiap kali aku berbisik lewat angin, kalian bilang itu “angin biasa”.
Tiap kali aku menangis lewat hujan, kalian bilang itu “musim”.
Tiap kali aku mengerang lewat gempa, kalian baru menoleh… sebentar, lalu lupa lagi.
Aku ingat saat pertama kalian datang.
Langkah kecilmu di atas tanahku.
Tawamu di tepi sungai.
Aku memberimu segalanya tanpa syarat.
Aku memberimu oksigen setiap kali kamu menarik napas. Gratis.
Aku menumbuhkan padi, buah, dan sayur untuk perutmu. Tanpa pamrih.
Aku jadikan gunung sebagai penyangga, laut sebagai penyejuk, hutan sebagai paru-parumu.
Aku bahkan menampung semua sampah hatimu… diam-diam.
Lalu waktu berjalan.
Kalian tumbuh besar. Pintar.
Kalian bisa membelah atom, terbang ke langit, membuat mesin yang berpikir.
Tapi kalian lupa cara paling dasar: merawat rumah.
Kalian tebang aku untuk kertas yang besok dibuang.
Kalian bakar aku untuk listrik yang semalaman menyala sia-sia.
Kalian buang plastik ke lautku, lalu heran kenapa ikanku mati.
Kalian gali isi perutku untuk emas dan minyak, lalu kaget saat tanahku longsor.
Kalian meninggikan gedung, tapi merendahkan pohon.
Anakku…
Banjir itu bukan aku marah. Itu air mataku yang meluap.
Kekeringan itu bukan aku pelit. Itu dahagaku yang belum kau obati.
Gunung meletus itu bukan aku jahat. Itu batukku karena paru-paruku penuh abu.
Panas yang menyengat itu bukan aku dendam. Itu demamku.
Aku sudah terlalu lama diam.
Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku sayang.
Seorang ibu tidak akan pernah berhenti mencintai anaknya,
meski anak itu terus menyakitinya.
Tapi sayangku ada batasnya.
Jika aku runtuh, kalian tidak punya planet lain untuk pulang.
Mars terlalu jauh. Bulan terlalu dingin.
Rumah kalian hanya satu. Dan dia sedang retak.
Jadi kumohon…
Sebelum terlambat, belajarlah lagi jadi tamu yang baik.
Tanam satu pohon untuk setiap pohon yang kau tebang.
Bawa pulang sampahmu. Jangan buang ke rumahku.
Matikan lampu yang tidak perlu. Hemat air yang kau minum.
Dengarkan orang tua di desa yang bilang “musim sudah tidak menentu”.
Karena mereka lebih dulu mendengar bisikanku.
Aku tidak minta kalian sempurna.
Aku hanya minta kalian sadar.
Karena menyelamatkan aku menyelamatkan dirimu sendiri.
Menyelamatkan aku menyelamatkan anak cucumu nanti.
Ingat ya…
Aku tidak butuh diselamatkan.
Aku sudah hidup 4,5 miliar tahun.
Tanpa kalian, aku akan sembuh sendiri.
Tapi tanpa aku, kalian tidak akan ada.
Jadi peluklah aku sekarang.
Sebelum pelukan terakhirku adalah bencana.
Dengan cinta yang masih tersisa meski lelah,
*Ibumu, Bumi*
Catatan Pena : SuruOktaviano
