NTT, WBN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tren aktivitas gempa bumi susulan di Flores, Nusa Tenggara Timur, mulai menunjukkan penurunan intensitas dan magnitudo.
Kendati demikian, proses pelepasan energi atau relaksasi kerak bumi ini diprediksi masih akan berlangsung hingga empat minggu ke depan.
Hingga Rabu (19/8/2026), BMKG mendeteksi total 2.850 gempa susulan pascagempa utama bermagnitudo 7,7. Dari ribuan getaran tersebut, sebanyak 83 gempa di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat dengan rentang magnitudo bervariasi antara M 1,1 hingga M 6,2.
“Secara umum, grafik pergerakan gempa susulan relatif menurun magnitudonya. Estimasinya, (gempa susulan) masih akan terjadi sampai tiga atau empat minggu ke depan,” ujar Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Dr. Tegu Rahayu, di Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT (19/8/2026).
Tegu mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap menjaga kewaspadaan di tengah fase pemulihan tektonik ini. Warga juga diingatkan untuk menyaring informasi dan tidak mudah memercayai kabar bohong (hoaks) yang kerap beredar pascabencana.
Terkait ancaman gelombang laut, BMKG menegaskan bahwa potensi tsunami telah berakhir. Peringatan dini tsunami langsung dicabut dua jam setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 terjadi.
“Untuk saat ini, gempa-gempa susulan dengan magnitudo kecil tidak memiliki potensi tsunami,” kata Tegu menegaskan keamanan wilayah pesisir dari ancaman gelombang sekunder.
WBN – Wil
