NGADA, WBN — Narasi yang beredar di media sosial mengenai video seorang pria berbaju kuning yang mengaku sebagai “Malaikat Mikhael” sebelum gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026), dipastikan sebagai disinformasi.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa rekaman tersebut diambil satu jam setelah gempa terjadi, dan pria dalam video tersebut merupakan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
HD (29), warga Desa Waesae, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, selaku perekam video, mengonfirmasi bahwa aksi tersebut direkam secara spontan di area Pelabuhan Aimere. Pria berbaju kuning itu datang ke tengah para calon penumpang kapal menuju Kupang serta para pengantar yang sedang duduk di titik kumpul pascagempa Pelabuhan Aimere Ngada.
“Klip viral itu saya yang rekam sekitar satu jam setelah gempa besar. Dia muncul sambil berteriak-teriak. Kami merekam karena merasa itu hal yang aneh di tengah situasi saat itu,” ujar HD saat dikonfirmasi Kamis (20/8/2026).
HD juga menyayangkan adanya pihak yang memutarbalikkan fakta dengan mengeklaim video tersebut diunggah sebelum gempa sebagai bentuk ramalan.
“Gempa terjadi pagi subuh saat masih gelap, sementara kondisi cahaya dalam video sudah terang benderang. Tolong jangan sembarang menyebarkan informasi,” tambahnya.
Pada saat kejadian, keluarga dari pria tersebut juga berada di lokasi dan menjelaskan bahwa yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa sejak pulang merantau dari Kalimantan.
Kepala Pos Polisi KP3 Laut Aimere, Bripka Jonathan Eka Putra Simo, yang juga terlihat dalam video tersebut, membenarkan situasi di lokasi kejadian.
Menurut Jonathan, warga yang berkumpul di area parkir pelabuhan saat itu adalah calon penumpang tujuan Kupang yang sedang menjadikan area terbuka sebagai titik kumpul aman pascagempa.
“Saya minta publik tidak menyesatkan informasi. Pemuda yang berteriak mengaku malaikat itu adalah pasien gangguan jiwa yang sudah dimaklumi oleh warga sekitar. Kejadiannya setelah gempa, bukan sebelum gempa. Jangan mengarang cerita yang membodohi masyarakat,” tegas Jonathan.
Ia juga memastikan infrastruktur Pelabuhan Aimere dalam kondisi aman dan tidak mengalami kerusakan struktural akibat gempa.
Berdasarkan klarifikasi pihak keluarga kepada Polsek Aimere, pemuda berbaju kuning tersebut menetap di Desa Aimere Timur. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa yang bersangkutan telah mengalami gangguan jiwa selama enam tahun terakhir setelah kembali dari Kalimantan.
Sebelum gempa, demi mengantisipasi tindakan yang membahayakan diri sendiri dan lingkungan, keluarga melakukan pemasungan di rumah dan lama dipasung.
WBN
