NAGEKEO, WBN — Seorang pemuda berinisial LM (20), warga RT 01, Dusun Nggolonio, Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa (Mbay), Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri dini hari, Kamis (20/8/2026).
Peristiwa tragis ini terjadi tak lama setelah wilayah tersebut diguncang gempa bumi pada tengah malam. Menurut Kepala Desa Nggolonio, Oris Lengga, korban (LM) merupakan lulusan SMA dua tahun sebelumnya, sehari-harinya dikenal sebagai pemuda yang tenang dan bekerja membantu keluarga mencari pakan sapi di gunung.
“Sebelum gempa, dia baik-baik saja dan normal pembawaannya. Tetapi setelah gempa, dia berubah perilaku, mulai menyendiri dan lebih banyak diam”, kata Kades Oris.
Korban diduga mengalami trauma atau tekanan psikologis berat yang dipicu oleh fenomena alam.
Menurut keterangan pihak keluarga, saat gempa mengguncang pada pukul 00.00 WITA, korban terbangun dan langsung keluar rumah. Kebiasaan berjalan keluar rumah saat merasakan getaran gempa memang kerap ditunjukkan korban selama ini, diduga sebagai bentuk reaksi kecemasan.
Kakak korban baru menyadari kepergian adiknya pada pukul 02.00 WITA saat hendak ke toilet. Karena korban tidak ada di tempat tidur, sang kakak melakukan pencarian ke area luar rumah.
Korban akhirnya ditemukan sudah tidak bernyawa di pohon nimba dengan tali nilon, di bagian belakang dapur, setelah pihak keluarga menaruh curiga pada gonggongan anjing yang terus-menerus ke arah tersebut.
Kapolres Nagekeo melalui Kasat Reskrim Polres Nagekeo, Iptu Fajar E. Cahyono, S.H., membenarkan kejadian tersebut saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, (20/8). Pihak kepolisian telah turun langsung ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk melakukan olah tempat kejadian dan mengevakuasi korban.
“Kami sudah ke TKP untuk mendalami kasus dugaan bunuh diri ini. Untuk motif pastinya, saat ini belum diketahui dan masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut,” ujar Iptu Fajar.
Peristiwa ini memicu keprihatinan mendalam, terutama terkait kondisi kesehatan mental masyarakat pascabencana. Pemberian dukungan psikososial awal sangat krusial bagi warga yang berada di daerah rawan atau terdampak bencana.
WBN – Wil
