Abah Anton Charliyan: Jejak Panjang dari Reserse, Kapolda Jabar hingga Pengabdian Budaya Sunda

Penanganan Teror Bom Cicendo

Pada masa Anton menjabat Kapolda Jabar, wilayah Bandung menghadapi salah satu peristiwa keamanan yang mendapat perhatian nasional, yakni teror bom panci di kawasan Cicendo pada Februari 2017.

Sebagai Kapolda, Anton menjadi salah satu pejabat yang memberikan keterangan mengenai penanganan perkara tersebut. Polda Jabar kemudian memberikan penghargaan kepada sejumlah personel yang dinilai berprestasi dalam penanganan kasus tersebut. Dokumentasi Pemprov Jabar mencatat sebanyak 35 personel Polda Jabar menerima penghargaan terkait penanganan kasus bom panci Cicendo.

Tanda Jasa Selama Pengabdian

Rekam jejak Anton juga ditandai dengan sejumlah penghargaan kedinasan.

Pikiran Rakyat mencatat antara lain:

Satyalancana Dwidja Sistha — 2014

Bintang Bhayangkara Nararya — 2014

Bintang Bhayangkara Pratama — 2016

Penghargaan tersebut merupakan bagian dari catatan formal pengabdiannya selama berkarier di institusi Polri.

Dari Polisi Menjadi Tokoh Budaya

Setelah mengakhiri karier di kepolisian, Anton memasuki babak baru.

Perhatian terhadap budaya Sunda semakin terlihat dalam aktivitas publiknya. Transformasi tersebut menarik karena sebelumnya ia menjalani puluhan jabatan di lingkungan kepolisian, sementara setelah pensiun ia semakin banyak tampil dalam kegiatan sosial dan kebudayaan.

Pada 2026, Gubernur Jawa Barat melalui SK Nomor 430/Kep.120-Disparbud/2026 tanggal 6 Maret 2026 menetapkan Anton sebagai Ketua Umum merangkap anggota Majelis Adat Sunda Jawa Barat periode 2026/2027.

MASDA sendiri mempunyai tugas antara lain menampung aspirasi masyarakat adat dalam rangka pelestarian budaya di kampung adat, melakukan koordinasi dengan masyarakat adat, serta merumuskan rekomendasi pelestarian adat.

Kampung Adat Menjadi Perhatian

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MASDA, Anton pada Juli 2026 menyampaikan bahwa penguatan kampung adat menjadi salah satu agenda utama pelestarian budaya Sunda.

Menurut pemberitaan yang memuat pernyataannya, pendekatan tersebut diarahkan pada penguatan budaya dari tingkat masyarakat dan kampung adat sebagai basis kehidupan budaya Sunda.

Peran ini memperlihatkan kesinambungan lain dalam perjalanan Anton: ketika masih menjadi pejabat kepolisian, ia membangun kemitraan dengan tokoh adat dan masyarakat; setelah pensiun, ia kemudian masuk lebih jauh ke ruang kebudayaan.

Dua Dunia Pengabdian

Jika perjalanan panjangnya dipetakan, rekam jejak Abah Anton Charliyan dapat dilihat melalui dua fase besar.

Pertama, fase Bhayangkara.
Dimulai dari Akpol 1984, berkembang melalui fungsi reserse, berbagai jabatan kewilayahan, Mabes Polri, Kadiv Humas, Kapolda Sulawesi Selatan dan akhirnya Kapolda Jawa Barat.

Kedua, fase pengabdian masyarakat dan budaya.
Setelah purnatugas, Anton terlibat dalam politik dan kemudian semakin aktif dalam kegiatan sosial serta kebudayaan, hingga dipercaya memimpin Majelis Adat Sunda Jawa Barat.

Dengan demikian, rekam jejak Anton bukan hanya berbicara tentang jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga tentang pergeseran bentuk pengabdian: dari tugas kepolisian dan keamanan menuju ruang sosial, adat dan kebudayaan.

Lanjut kehalaman berikutnya!…

Share It.....