Bantuan Melanie Subono Menembus Isolasi Krisis Air Bersih di Jantung Riung Barat Flores

NTT, WBN — Krisis air bersih pascabencana gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kian mengancam warga di wilayah pedalaman. Di tengah lumpuhnya akses dan rusaknya infrastruktur, upaya kemanusiaan mulai berhasil menembus wilayah terisolir, terluar, dan tertinggal (3T) di Desa Ria, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Kamis (20/8/2026).

Bantuan tanggap darurat pascabencana ini diinisiasi oleh aktivis kemanusiaan Melanie Subono melalui jaringan Rumah Harapan. Distribusi logistik digerakkan secara berantai dari Jakarta, melalui perwakilan di Lembata oleh Alfian Rayabelen, hingga akhirnya dikoordinasikan oleh relawan lokal yang bertugas sebagai jurnalis di Ngada, Aurelius Do’o.

Namun, misi kemanusiaan ini tidak berjalan mudah. Selama dua hari, tim relawan di Mataloko, Ngada, sempat membentur jalan buntu. Sejumlah pemilik armada tangki air menolak mengirimkan pasokan ke pedalaman Riung Barat karena khawatir kendaraan mereka rusak akibat medan jalan yang hancur pascagempa.

“Sumber mata air warga di sana rusak total dan berlumpur akibat guncangan gempa. Sementara itu, armada pengangkut sempat menolak masuk. Setelah mencari jalur alternatif dan berkoordinasi dengan jaringan aktivis daerah Alexander Songkares, pasokan air akhirnya bisa keluar dari hambatan,” ujar Aurelius Do’o.

Satu unit armada tangki air swasta akhirnya berhasil dikerahkan. Sejak Kamis pagi hingga malam hari, pasokan air bersih langsung didistribusikan ke titik-titik krusial di Desa Ria, termasuk fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Kantor Camat, tempat peribadatan (Gereja), serta posko-posko pengungsian warga.

Ancaman Krisis Kesehatan

Sebelum bantuan tiba, warga Desa Ria praktis mengonsumsi air keruh dari sumber mata air yang bercampur lumpur akibat pergeseran tanah. Kondisi ini memicu kecemasan mendalam di kalangan warga akan munculnya wabah penyakit pascabencana.

Tokoh muda masyarakat Riung Barat, Sain Songkares, mengungkapkan bahwa kehadiran air bersih ini menjadi penyambung hidup yang sangat dinantikan masyarakat sejak gempa melanda.

“Sejak gempa, kami benar-benar krisis air. Warga cemas karena terpaksa mengonsumsi air yang tidak sehat demi bertahan hidup. Kami sangat berterima kasih atas kepedulian dari Melanie Subono dan seluruh jaringan relawan yang terus bekerja dari pagi hingga malam demi warga pedalaman di sini,” kata Sain.

Hingga Kamis malam, distribusi air bersih masih terus dilakukan secara bertahap. Kendati bantuan darurat mulai masuk, pemulihan sumber mata air dan jalur logistik permanen ke wilayah Riung Barat masih memerlukan penanganan jangka panjang dari pemerintah daerah dan otoritas terkait.

WBN

Share It.....