Oleh : P. Charles Beraf, SVD
Di Pantai, Yohanes dan Yakobus meninggalkan ayah mereka Zebedeus dan orang – orang upahan, perahu dan jala, dan memilih mengikuti Yesus. Mereka berkaul: Kemurnian (tinggalkan kekasih, orang – orang dekat), Kemiskinan (harta berharga – mungkin bakal jadi warisan dari sang ayah), dan Ketaatan (ikut Yesus). Mereka beranjak dari keseharian, tetapi tentu bukan demi suatu privilese sosial. Mereka berangkat dari keseharian – toh tetap demi keseharian (menjala).
Itu cerita dan refleksi, menurut saya, memang kedengaran sangat klise, tetapi masih tetap inspiratif. Di tengah godaan eksklusivisme dalam lingkaran bernama pergaulan, tempat makan, kendaraan, perjalanan, rumah, fasilitas, bahkan bahasa pelayanan – kisah dua anak nelayan itu terasa seperti ‘tamparan’. Ya, barisan para imam memang bukan barisan para elite, yang sangat selektif dalam pergaulan atau yang menimbun mamon demi Jimny kelas atas, meski kadang dengan bungkusan bahasa yang sangat indah: demi pelayanan. Seorang selibater atau katakan saja, seorang imam, adalah dia yang dipanggil dari ‘keseharian’ demi keseharian: kapan saja, baik atau tidak baik waktunya, selalu siap melayani, malah dengan preferensi anawim: mereka yang miskin dan papa.
Kemarin, sehari setelah pulang memberikan materi ecopastoral bagi para uskup se-Indonesia di Gedung KWI, Menteng – Jakarta, saya ditawari adik sepupu yang bekerja di dealer mobil Surabaya untuk sedapat mungkin bisa punya mobil sendiri.
“Ini Jimny, kaka. Rocky boleh, tetapi sebaiknya Jimny, kaka”. Segera saya membayangkan, betapa ‘wow’nya saya ketika bisa punya mobil sendiri seharga 500-an juta itu. Tetapi bagaimana mungkin mobil semahal itu bisa terbeli? Apa saya mesti menilep sedikit demi sedikit dari pundi-pundi paroki dengan alasan ‘demi melancarkan pelayanan’, meski saya sendiri tahu sangat baik bahwa yang ada pada pundi-pundi itu datang dari keringat para petani? Apakah saya harus mulai memilah-milih dalam pelayanan: mengutamakan mereka yang lebih tebal memberi amplop intensi dan stipendium? Atau sedikit dari yang saya kerjakan (kebun, ternak) bisa dicicilkan demi Jimny?
Beberapa pertanyaan serupa itu sudah lama melintas, bikin galau dan sangat mengganggu batok saya. Tetapi setelah digembleng di beberapa tempat dengan mayoritas umat saya adalah kaum papa, saya toh akhirnya menyadari bahwa menjadi seorang imam atau seorang selibater adalah menjadi seorang bebas: bebas dari kebutuhan membangun kehidupan privat yang penuh privilese.
Mengikrarkan kaul kemiskinan misalnya, atau hidup dengan komitmen kemiskinan bukan berarti meromantisasi kemiskinan atau juga tuntutan agar seorang imam hidup sengsara. Seorang imam boleh mempunyai fasilitas, tetapi fasilitas itu tidak boleh menciptakan jarak sosial, psikologis, dan ekonomis dengan umat yang dilayani.
Jadi, bukan ‘wow’ yang dikejar – suatu gambaran visibility (hidup yang mudah terlihat, dipuji, dianggap berhasil), tetapi ‘wala’ (ungkapan orang Bajawa – bahasa keseharian) – suatu gambaran proximity (hidup yang cukup dekat sehingga bisa merasakan apa yang dirasakan umat). Maka, pertanyaan moralnya bukan pertama-tama, “bolehkah saya memiliki ini?”, melainkan “apakah cara hidup saya masih memungkinkan saya merasakan kehidupan umat?”
Hal itu pun menjadi pertanyaan bagi gereja umumnya, apalagi gereja dengan ‘tagline’ ‘gereja kaum papa dan miskin’. Di sini, meski setelah setahun bekerja, pundi-pundi paroki Mangulewa terisi dua (2) milyar lebih – jumlah yang cukup bagi gereja di kampung untuk bisa dibilang ‘wow’, kami terus memilih berjuang untuk tetap menjadi gereja solider dan sinodal (berjalan bersama) – bukan gereja yang ‘wow’, tetapi gereja yang tetap ‘wala’ – di kebun dan kandang dengan preferensi ‘papa dan miskin’- menjaga dengan system yang jelas agar uang para papa tidak disalahgunakan dengan prinsip real cost dalam urusan pastoral, membantu anak-anak sekolah yang kurang mampu (berjejaring dengan orang-orang baik yang bisa membantu melalui jalur beasiswa), pemberdayaan melalui optimalisasi asset dan satu lagi: melayani dengan kasih yang tulus.
Jadi, dalam urusan berkaul kaum selibat atau urusan pastoral gereja, hal yang penting bukan lagi soal Jimny atau Rocky, tetapi soal cara hidup. Apa artinya dua milyar pada pundi-pundi, kalau gereja justru menjadi gereja yang eksklusif – jauh dari kehidupan umat? Apa artinya ‘meninggalkan’, kalau seorang selibater lebih sibuk mendulang harta karun, meski itu dari jerit dan keringat kaum papa? Apa artinya ‘menjala manusia’, kalau para selibater lebih sibuk meninggikan tembok biara-biara dengan alasan kenyamanan? Di tengah godaan mencari privilese sosial dewasa ini, seorang selibater, imam, dan bahkan gereja terus dipanggil untuk tetap menjadi yang dekat dengan ‘keseharian’, dekat dengan ‘apa adanya’, untuk tetap ‘wala’, bukan untuk mencari ‘wow’.
Dari Wow Ke Wala : Ketika Selibat Menciptakan Kelas Sosial Baru (P. Charkes Beraf, SVD).
